Tuesday, July 31, 2018

Cerita Seks Menikmati Rasa Bercumbu

Cerita Seks Menikmati Rasa Bercumbu

LASKARQQPeristiwa ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di Amerika. Saya kuliah di universitas yang lumayan terkenal di dunia. Berhubung sekolahnya bagus, maka anak-anak Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pintar. Cewek yang cantik saja cuma beberapa, itupun sudah ada cowoknya semua. Nah awalnya, ada cewek yang baru datang dari Jakarta bernama Vira (nama samaran). Saya sudah sering mendengar cerita dari teman-teman bahwa Vira ini cantik dan suka berpakaian seksi, apalagi di awal Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

Suatu hari di kampus, saya berpapasan dengan teman-teman cewek. Seperti biasa, saya cuma basa-basi saja karena saya memang terkenal cuek di depan cewek-cewek. Setelah basa-basi, saya bilang saya sudah terlambat masuk ke kelas. Ketika balik badan, eh hampir bertabrakan dengan cewek tinggi cantik yang sedang lewat di belakangku. Yang lain langsung tertawa.
“Alahh Ricky pasti deh disengaja supaya kenalan”, kata cewek-cewek menggodaku. Ternyata itu yang namanya Vira.
“Alow.., saya Ricky”.
“Vira”, katanya cuek.

Setelah hari itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan Vira. Sampai suatu hari ketika baru keluar dari kelas, saat jalan pulang saya lihat Vira sedang duduk sendirian merokok di luar gedung English. Ah, kesempatan nih pikirku. Langsung saya hampiri dia. Wah gila deh.., pakaiannya membuatku tidak tahan. Baju minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna coklat. Ketika saya didepannya, kelihatan payudaranya yang menonjol dengan tali BH hitamnya yang menambah seksi penampilannya. Wah.., begini rupanya cewek-cewek Jakarta jaman sekarang. Setelah basa-basi sedikit, saya ikutan merokok bersama dia dan bercerita tentang diri kita.
Tiba-tiba dia bertanya, “Eh Ric.., loe kalau tidak ada kelas lagi jalan yuk.., Saya asli boring banget nih”. Terus setelah bingung mau jalan ke mana, kita memutuskan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya dia mau ke mall, pingin shopping.
Hari itu kita jadi akrab sekali sampai sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak tahu kenapa saya yang awalnya nafsu jadi suka benar kepadanya. Anaknya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi dia senang saja jalan denganku yang termasuk anak “bawah” di kotaku. Mobil sudah butut, duit selalu pas-pasan. Wah.., untung deh kayaknya si Vira ini tidak matre.

Setelah sebulan jadi teman dekat, suatu malam pulang dari main billiard dia mengajakku ke tempatnya. Dia tinggal bersama tantenya yang sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Waktu itu sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya sudah pada tidur semua. Dia langsung mengajakku ke dapurnya yang sangat besar.
“Mau beer Ky?”, tawar Vira.
“Tidak usahlah Vir.., kalau loe mau ya satu berdua saja”, jawabku (saya memang tidak begitu suka yang namanya minuman keras).
Terus waktu Vira datang membawa beernya.., dia langsung jongkok di depanku yang sedang duduk di kursi. Wah.., lagi-lagi dengan salah satu baju sexynya, pemandangan payudaranya persis di depan mataku. Tanpa sadar penisku sudah naik melihat tonjolan payudara yang putih itu. Karena posisiku yang lagi duduk, maka penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Langsung saya membungkuk sedikit supaya tegangnya tidak begitu menyiksa.
“Ky.., loe tuh sudah Saya anggap teman dekat Saya disini. Terus terang.., loe tuh satu-satunya yang cuek saja kalau didepan Saya.., makanya saya suka. Cowok lain kan rata-rata suka genit-genit gitu.., ah males banget deh Saya lihat cowok gituan”, kata Vira sambil menatap tajam ke mataku.
“Jadi teman doang nihh?”, kataku sambil ketawa kecil.
“Ini baru mau nanya.., loe sama Saya saja mau gak?”, kata Vira sambil tersenyum kecil.
“Ah canda loe.., Saya tidak ada modal buat pacaran Vir”, saya menanggapinya sambil tersenyum juga.
“Sudah ah.., kalau tidak mau ya sudah”, kata Vira dengan pura-pura cemberut.
Tidak tahu ada dorongan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik menelusuri leher dan telinganya. Saya lihat Vira diam saja menikmati permainan kecilku.
Setelah beberapa saat saya tanya, “Vir.., Saya boleh cium loe tidak?”.
“Sekali saja ya Ky..”, katanya dengan senyum nakalnya. Saya bungkukkan badan dan langsung saya cium bibirnya dengan lembut. Pertama kita main bibir saja, terus dia yang mulai memainkan lidah. Setelah beberapa saat dia pegang tanganku sambil menuntunnya ke kamarnya.
Dengan was-was saya tanya, “Eh Oom loe tidak bangun sebentar Vir?”.
“Makanya jangan ribut!”, jawab Vira cuek.
Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Saya jongkok di depannya dan mulai mencium bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang payudaranya yang berukuran 34B. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan pas sekali.
Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, “Ky.., ada satu yang perlu loe tau.., Saya belum pernah lho yang aneh-aneh.., Paling jauh cuma ciuman”.
Dengan kaget saya langsung bilang, “Ya sudah deh Vir.., tidak usah saja ginian”.
Dengan cepet Vira memotong omonganku, “Bukan gitu Ky.., Maksud Saya.., ya pelan-pelan saja, Saya juga tidak mau loe ngira Saya beginian sama semua cowok”.
“Saya tidak peduli juga dengan masa lalu loe Vir.., yang penting sekarang Saya senang sama loe.., Kalau loe dulu sering juga gak apa-apa kok.., kan jadi asik loe sudah pengalaman”, candaku sambil ketawa kecil takut Oom dan Tantenya terbangun.
“sialan loe!”, katanya ikutan ketawa kecil.
Tidak berapa lama, saya maju lagi dan mulai mencium Vira. Setelah beberapa menit saya buka bajunya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya saya keluarin dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus terang, sebelum ini belum pernah saya melihat payudara sebagus ini. Penisku menjadi sangat tegang. Apalagi permainan yang pelan-pelan begini membuat suasana makin erotis dan menahan rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku semakin menikmati permainan ini.
“Vir.., Saya boleh ciumin bawah lu tidak?”, tanya saya hati-hati. Vira hanya mengangguk kecil. Kelihatan diwajahnya bahwa dia juga menikmati sekali permainan saya.
“Loe tiduran saja Vir”, kata saya sambil berdiri dan membuka baju dan celanaku. Setelah dia telentang saya buka pelan-pelan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik pelan-pelan ke paha dan berhenti di selangkangannya. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamnya. Ternyata bulu vaginanya tipis dan lurus. Pas sekali nih dalam hati saya. Saya tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah saya jilati vaginanya sambil saya masukin lidahku ke dalamnya. Vira diam saja sambil sedikit bergoyang.
Setelah beberapa menit Vira sudah basah dan saya juga sudah tidak tahan dari tadi cuma tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak terlalu besar, tapi lumayan panjang. Saya mencoba lagi menusukkan penisku, eh tetap saja tidak masuk. “Benar juga nih anak masih perawan”, dalam hatiku. Sambil menciuminya, saya berbisik, “Saya coba agak keras ya Vir?”. Tanpa menunggu jawaban langsung saya coba menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.
Akhirnya setelah kira-kira 10 menit tembus juga pertahanan Vira. Pertama dia tampak kesakitan, tapi lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya menutup mulutnya supaya dia tidak mendesah terlalu keras.
Sayang gara-gara sudah ereksi sejak tadi, saya cuma bisa bertahan 10 menit.
“Saya mau keluar nih Vir..” kataku dengan napas yang tidak teratur.
“Di luar Ky!”, jawabnya cepat.
Tidak berapa lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya langsung mengambil tissue dan membersihkan spermaku diperutnya. Vira masih telentang diam di tempat tidur.
“Loe tidak pa-pa Vir?”, tanyaku kawatir takut dia menyesal.
“Aduh Ky.., sakit nih kalau saya gerakin”, jawabnya dengan muka meringis.
“Pelan-pelan saja Vir”, kataku sambil berpakaian lagi
Akhirnya Vira berdiri dan ikutan berpakaian.
“Ky.., loe balik deh.., besok kan ada kelas pagi”, kata Vira tanpa expressi.
“Iya deh Vir..”, jawabku sambil mencium bibir dan keningnya.
Dia mengantarkanku sampai di pintu depan dan saya tanpa banyak bicara langsung pergi pulang. Ini pertama kali saya mengambil perawan cewek. Ada perasaan was-was dalam hatiku.
Besoknya di kampus seperti biasa ketemu Vira di depan Perpustakaan. Saya dengan deg-degan mencoba tersenyum ke Vira. Saat di depanku, dadaku ditonjok dengan keras.
“Sakit tau!”, kata Vira dengan nada keras. Saya diam saja tidak tahu mau ngomong apa. Eh tahunya dia langsung ketawa terbahak-bahak.
“Tidak pa-pa kok Ky.., saya tidak marah sama loe.., asal..”, katanya dengan senyum-senyum.
“Asal apaan?”, tanyaku tidak sabar.
“Asal loe jadi cowok saya mulai sekarang”, Kata Vira sambil menatap tajam.
Dengan hati senang saya langsung bilang, “Saya sih sudah nganggep loe cewek saya dari dulu”.
Akhirnya kita ketawa dan sejak itu Vira mulai belajar seks pelan-pelan dengan saya tentunya.

PERSELINGKUHAN TANTEKU


LASKARQQDi suatu Minggu pagi yang cerah.. Hendra sarapan berdua saja dengan Tanteny di rumah.. Biasany acara sarapan hari minggu mereka lakukan bertiga bersama dengan Omny.. Soalny di harihari lain,, tidak ada kesempatan untuk mereka dapat sarapan bersama,, palagi mkan pagi tau bhkan mkan mlem.. Kesibuxan pamanny,, menyebabkan mereka hany dapat berkumpul bersama di hari minggu pagi..
Omny yang seorang direktur jenderal di Departeman Dalam Negeri selalu padat dengan kegiatan kantor.. Sedangkan sang Tante yang aktivis kegiatan sosial selalu sibux dengan urusan arisan,, urusan anakanak panti asuhan,, anakanak jalanan,, anakanak pengungsi Aceh,, Maluku dan segala macam anak2 lainny.. Akhirny Hendra,, ponakan stu2nya mlah g bgt dpt perhtian..
Pagi itu,, sang Om tidak bisa ikut sarapan bersama karena sedang melakukan kunjungan ke daerah.. Katany sih meninjau pelaksanaan otonomi daerah di 3 provinsi.. paling cepet kembali minggu depan.. Meskipun kadangkala Hendra merasa sedih karena sering ditinggal sendirian di rumah,, namun Hendra sesungguhny menikmati kesibukan pamannya itu..
Rumah yang selalu sepi membuatny lebih puny banyk kesempatan untuk memuasmuaskan nafsuny di rumah.. Ia bisa melakukanny dengan Ayux,, sang pacar,, atau dengan Eka teman sekaligus yang mengajariny menjelang ujian akhir dan SPMB,, atau juga ramerame dengan temantemanny dari Tim Volly Mekar Sari..
Hari ini Tante pergi lagi ?? tany Hendra berbasabasi pada Tanteny.. Ia tahu pasti,, sesudah sarapan nanti
Tanteny pasti ngeluyur dari rumah dan baru pulang hampir tengah malam..
Iyalah sayang.. kmu kan tahu,, Aceh sedang bergolak nih.. Jadiny Tante makin sibux mengurusi pengiriman stock makanan untuk saudarasaudara kita disana syang,, keluh Tanteny dengan senyum penuh kebijakan..
Harus itu Ma,, Hendra juga mau pergi nih abis sarapan,, kata Hendra..
Bljr sama Eka lgi?? tany Tante,, smbl memsukkn sptong roti bkar kebbir tipsny yg amat manis..
Di usia yang hampir 39,, Tante Silvy masih kelihatan sangat cantik sexy.. Tubuhny padat seperti gadis usia dua puluh tahunan saja.. Gimana gack,, sang Tante kan rajin olahraga dan makan makanan suplemen plus minum jamu untuk menjaga stamina dan kekencangan otot serta kulitny..
gak Mah,, Maen Volly sama anakanak,,
Lho,, kmu kan sudah dekat ujian akhirny sayang.. Kok bukanny belajar bareng Eka,, malah maen Volly??
Ini juga main Vollyny bareng Eka kok Tante,,
Hmm,,
Iya.. Kata Eka,, sekalikali perlu refresing juga agar pikiran tidak butek karena belajar terus2an.. Kesegaran tubuhku kan perlu dijaga juga Tante,,
Gitu ya.. Kalau gitu ya terserah.. Yang penting kmu belajarny yg baek ya,, supaya nnti llus dpat nilai yg baik.. kalau nilai kmu kurang bagus,, citacita kmu untuk masuk Akademi Angkatan Udara kan bisa gagal sayang
Beres Tante,, Yang penting Tante doain Hendra selalu ya,,
Pasti sayang,, jawab Tanteny dengan senyum sayang..
Hendra melahap potongan roti bakarny yang terakhir.. Kemudian berpamitan pada Tanteny,,
Hendra pergi duluan ya Tante kapan berangkatny?? tany Hendra sambil mencium pipi Tanteny..
Setelah Tante beres2 dulu sayang,,
Pergi sama Bli Sudarma,, Ma??
Iya dong sayang.. Abis sama sapa lagi.. Kan supir Tante cuman dia satusatuny,,
Oke deh Tante Silvy berangkat kalau gitu,, kata Hendra,, disandangkanny ransel olah ragany ke bahuny..
Hatihati ya sayang,,
Cerita ML terbaru bergambar ~ Hendra menuju garasi di samping rumah untuk mengambil sepeda motorny.. Ia bertemu dengan Bli Sudarma di sana.. Supir Tanteny itu sedang asyik berbasahbasah ria,, mencuci sedan milik Tanteny..
Selamat pagi Mas Hendra,, sapa Bli Sudarma ramah pada Hendra sambil tersenyum manis memamerkan barisan giginy yang rapi dan putih..
Pagi Bli Sudarma.. Masih nyuci mobil Mas?? Tante sudah mau berangkat tuh,,
Waduh,, Mas klo bgtu hrs buru2,, jawabny..
Kemudian ia sibux mengelap mobil sedan itu dengan kain yang masih kering.. Hendra memandangi cowok itu dengan serius.. Gimana gack serius,, Bli Sudarma ini orangny ganteng.. Tubuhny pun gagah dengan kulitny yang putih bersih.. Saat ini ia hany menggenakan celana pendek tanpa atasan,, memamerkan dada,, bahu,, lengan dan perutny yang ototototny bersembulan.. Bukit dadany yang liat tampak dihiasi bulubulu halus nan lebat..
Cerita Sex 2016: Perselingkuhan Tanteku
Dengan cuekny di depan Hendra,, Bli Sudarma mengangkatangkat tanganny yang berotot itu saat mengelap atap mobil.. Bulubulu lebat di lipatan ketiakny yang putih itu terpampang jelas di mata Hendra.. Membuat jakun remaja ganteng itu naik turun menahan nafsu.. Rencana Hendra untuk segera meluncur menuju rumah Eka akhirny tertunda.. Hendra merasa sayang kehilangan kesempatan menikmati pemandangan bagus di depan matany ini.. Pelanpelan ransel yang tadi sudah disandangny diletakkanny di lantai.. Ia mendekati Bli Sudarma,, purapura mengamati kegiatan mencuci mobil supir ganteng itu..
Mas,, tu masih basah bgian atasny,, komentarny,, biar kecuriaan Bli Sudarma tak muncul..
Bli Sudarma ini sebenarny adalah salah satu dari dua orang ajudan Omny Hendra yang bertugas di rumah mereka.. Usiany masih muda,, baru 24 tahun.. Asli Bali.. Dia lulusan STPDN.. Demikian juga Bli Komang ajudan Om Hendra yang satu lagi,, yang saat ini mendampingi sang Om melaksanakan tugas ke daerah.. Mereka berdua bertugas sejak sang Om diangkat menjadi dirjen..
Kedua ajudan ini sma2 machho.. mklum aja dlu ketika pndidikn kan dididik semi militer.. Kebetulan juga keduany memiliki paras yang ganteng dan tubuh jangkung menjulang.. Mungkin bedany hany lima cm dari tinggi Hendra sekarang,, 179 cm.. Saat sang Om memperkenalkan kedua ajudan itu kepadany,, Hendra blingsatan.. Waktu itu keduany datang dengan menggenakan seragam semi ketat.. Hendra dapat melihat dengan jelas otototot padat nan terlatih dibalik pkean yg mrekan pake.. Lolok hendra ngaceng bert akibt melihat tnjolan buah dada sang ajudan.. Akhirny untuk menuntaskan birahiny yang memuncak Hendra melakukan onani di kamarny,, ia belum berani untuk ngajak mereka berhubungan seks.. Hendra selalu berharap suatu saat dia bisa ngerjain kedua ajudan itu.. Namun sampai saat ini harapanny itu tak pernah kesampaian..
Berdiri dekat2 Bli Sudarma membuat birahi Hendra semakin meningkat.. Batang Lolokny sudah berdenyutdenyut.. Ia tak mau ngcroot sambil berdiri karena horny ngelihatin Bli Sudarma.. Segera ia meninggalkan ajudan jantan itu.. Dalam pikiranny kemudian,, lebih baik dia segera menuju rumah Eka.. Disana ia bisa menuntaskan hasratny pada temanny itu sebelum mereka berangkat ke sekolah untuk main Volly..
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Eka,, bayangan lekuk2 tubuh Bli Sudarma sang ajudan ganteng,, menarinari di benak Hendra.. Apalagi ketika tadi Bli Sudarma asyik nungging smbl ngelp mobil,, sang ajudan yg punya buah pantat yg montok itu mmbuatnya giler..
Hendra hampir tiba di rumah Eka.. tiba2 disadariny ransel olah ragany tak tersandang dipunggungny.. Garagara mengamati sang ajudan ia terlupa mengambilny lagi saat pergi.. Segera Hendra memutar laju sepeda motorny kembali ke rumahny.. Gimana dia mau main Volly kalau pakaian Volly tak dibawany..
Tak sampai sepuluh menit,, Hendra sudah kembali ke rumah.. Dilihatny mobil sedan sang Tante yang mengkilap masih terparkir dengan rapi di garasi..
Dasar Tante,, beres2 aja lama banget,, pikirny..
Dicariny ranselny di garasi,, namun tak ditemukanny disana.. Kemana ya?? Ia segera menuju dapur mencari Mbok Nengah,, pembantu rumahny.. Barangkali pembantuny itu menyimpan tasny..
Eh,, Mas Hendra.. gack jadi perginy Mas?? tany Mbok Nengah..
Tadi sudah pergi.. Tapi ransel saya ketinggalan.. Mbok ada lihat gack??
gack ada Mas.. Memangny tadi Mas Hendra tinggalin dimana??
Di garasi,, waktu Bli Sudarma nyuci mobil tadi,,
Mungkin dibawa sama Bli Sudarma kalau gitu,,
Bli Sudarma kemana Mbok??
Mungkin di kamarny Mas,, kan mau pergi dengan Tante,,
Hendra segera menuju kamar tidur Bli Sudarma.. Tapi tak ada orang disana.. Ia hany menemukan dua tempat tidur yang kosong,, milik Bli Sudarma dan Bli Komang.. Kamar mandi didalam ruangan kamar itu juga kosong.. Ia kembali ke dapur menemui Mbok Nengah..
gack ada Mbok,, kemana ya??
Coba liat di ruang kerja Om Mas.. Tadi Tante menyuruh saya memanggil Bli Sudarma ke ruang kerja Om.. Tapi apa masih di sana ya?? Coba liat dulu Mas,,
Cerita ML terbaru bergambar ~ Hendra segera menuju ruang kerja Omny yang terletak disamping kamar tidur pamannyya itu.. Sesampainy disana dilihatny pintu kamar kerja sang Om tertutup.. Ia memutar gerendel pintu itu,, ternyta terkunci.. Hendra segera menuju kamar pamanny.. Barangkali Tanteny masih di kamar itu beres2.. Ia bisa bertany tentang keberadaan Bli Sudarma pada Tanteny.. Diputarny gerendel pintu kamar itu,, ternyta tidak terkunci.. Hendra segera memasuki kamar besar itu.. Tanteny tidak terlihat duduk di meja riasny.. Matany menelusuri seluruh isi kamar.. Kosong.. Pintu kamar mandi Tanteny terbuka,, tak ada orang disana..
Matany kemudian tertumbuk pada pintu penghubung antara ruang kerja Omny dengan kamar tidur pamanny itu.. Pintu itu dilihatny buka sedikit.. Hendra mendekati pintu itu.. Sapa tau Tanteny ada disana,, pikirny.. Ketika langkahny semakin dekat dengan pintu kamar itu,, telingany tiba2 menangkap swara2 dari ruang kerja Omny.. Ia menghentikan langkahny,, mencoba berkonsentrasi mendengarkan suara itu.. tiba2 jantung Hendra berdegup dengan keras.. Perasaanny mulai tidak enak.. Suara yang didengarny itu adalah swara2 eranganerangan tertahan,, milik cowok dan cewek..
Hendra semakin mendekat ke pintu kamar yang terkuak itu.. Ia longokkan kepalany sedikit ke celah pintu yang terbuka itu.. Serta merta mata Hendra melotot melihat pemandangan di ruang kerja Omny itu.. Di atas meja kerja Omny,, dua manusia lain jenis dalam keadaan bugil sedang asyik memacu birahi yg bgtu mmbra.. trnya kdua insa tu tak lain dan tak bkan lagi adalah Tanteny dan Bli Sudarma sang ajudan! Kaki Hendra terasa lemas,, jantungny seperti mau copot..
Dari tempatny berdiri saat ini ia dapat melihat sang Tante sedang ditindih oleh Bli Sudarma.. Tante Silvy telentang dengan kaki mengangkang lebar diatas meja,, sedangkan di atasny Bli Sudarma melakukan genjotan pantat dengan gerakan yang cepat dan keras sambil mulutny melumat mulut sang Tante dengan buas.. Meskipun ia tak bisa melihat batang Lolok Bli Sudarma,, karena terhalang oleh paha Tanteny,, namun ia yakin seyakinyakinny,, batang Lolok milik ajudan ganteng itu sedang mengebor lobang Memek Tanteny tanpa ampun.. Baik Tanteny maupun Bli Sudarma samasama mengerangerang keenakan..
Hendra tak pernah menyngka akan menyksikan peristiwa ini.. Ia tak pernah menyngka Tanteny akan melakukan zinah dengan ajudan Omny sendiriny.. Tanteny yang selama ini dikenalny sebagai aktivis kegiatan sosial dan selalu berbicara soal norma2 moral,, ternyta melakukan perselingkuhan di ruang kerja milik suaminy sendiri!
Hendra tidak tahu harus melakukan apa.. Ia sangat marah.. Mukany merah,, tanganny mengepal2 menahan amarah yang membara.. Ia menarik kepalany dari celah kamar.. Dengan kesal dihempaskanny tubuhny ke atas tempat tidur orang tuany.. Dari ruang kerja Omny terdengar racauan2 ngesex dari mulut Tanteny dan sang ajudan..
oooHHHHH. oooHHHHH. EEnnaaacckk. Teeerrruuusssss.,, racau Tanteny..
hhhIIIhhhhh. hhhIIIhhhhh. aapppaAAAHHHHHH. Yang eennaacckkkk. hhhIIIhhhhh. Buh.,,
Konthollsshh. kmuhh. DahrmAAAHHHHHH. OOOuuuhhhhh.,,
Tanteh Sukaaaaaaa bgttttt. hhhIIIhhhhh. OOOuuuhhhhh. OOOuuuhhhhh. Sukaaaaaaa bgttttt????,,
Sukaaaaaaa bgttttt. Besar. Bangethh. OOuuuhhh. DharmAAAHHHHHH.,,
hhhIIIhhhhh. Mememkhh. Tantehh. JugAAAHHHHHH. Enakk. Tante. oooHHHHH.,,
eennaacckkkk???? Benar. eennaacckkkk. DarmAAAHHHHHH.????
YAAAHHHHHH. IyAAAHHHHHH. Tante.,,
Meskipun sangat marah,, racauan yang didengarny itu sungguhsungguh sangat merangsang.. Birahiny mulai bangkit.. Akhirny meskipun msih emosional didekatinya lagi pintu penghubung kamar itu.. Ia kembali mengintip hubungan ngesex Tanteny dan Bli Sudarma itu.. hubungan mereka sangat bersemangat dan kasar,, racauan mereka benar2 sangat merangsang,, akibatny Hendra tak mampu menahan Lolokny yang mulai mengeras.. Tanganny kemudian menyusup ke balik celanany,, meremasremas batang Lolokny sendiri..
eennaacckkkk. Manah. Samah. oooHHHHH. Memmek. Bu. Menterihh. oooHHHHH.,, racau Tanteny lagi..
EEnnaaacckk. Mememkhh. Tantehh.,,
Mmmasakhh sihh. DharamAAAHHHHHH. OoooHHHHH. Yeeessss. Disituhh. AAAHHHHHH.,,
IyAAAHHHHHH. Tante. Masih. Serethh. oooHHHHH. Njepithh.,,
Hendra kaget mendengar racauan itu.. Tak disangkany ternyta Bli Sudarma ini pernah ngentot sama istri menteri juga rupany..
Kalauhh. SamAAAHHHHHH. Memek. Fenihh. Pacarhh. kmuhh.??
oooHHHHH. Samah. SamAAAHHHHHH. EnaknyAAHHHHHH,, . Buh. oooHHHHH.,,
Dasarhh. Sshh. Gombalhh. OOOuuuhhhhh.,,
oooHHHHH. oooHHHHH. oooHHHHH. YAAAHHHHHH. oooHHHHH..,, .,,
Kerashh. OoooHHHHH. Besarhh bangethh. oooHHHHH.,,
Besar manAAAHHHHHH Tante. Sama Lolokhhsshh. Fadlyhh. oooHHHHH.,,
SamAAAHHHHHH. SamAAAHHHHHH. Sayanghh.
Bli Komang????!! Hendra benar2 tak menyngka.. Ternyta Tanteny pernah juga ngerasain batang Lolok ajudan Omny yang satu lagi itu..
Cerita ML terbaru bergambar ~ Beberapa saat kemudian sang Tante dan Bli Sudarma berganti posisi.. Bli Sudarma tidur telentang diatas meja kerja dengan kedua pahany yang kokoh dan berbulu itu menjuntai ke bawah.. Sang Tante kemudian duduk diatas selangkangan Bli Sudarma.. Saat Bli Sudarma mengatur posisi,, Hendra sempat melihat barang perkasa Bli Sudarma dengan jelas.. benar2 besar,, gemuk dan panjang dihiasi dengan bulu llok yang lebat.. Panjangny sekitar sembiln blas centimeter lebih.. Pantes aja Tanteny keenakan banget..
Hendra membayangkan bagaimana bila Lolok besar milik Bli Sudarma itu membetot lobang pantatny.. Pasti gesekanny terasa banget.. Lebih terasa dari puny si Wisnu,, teman Vollyny yang putra bali itu.. tiba2 muncul pikiran nakal di benak Hendra.. Ia ingin ngerjain Tanteny dan sang ajudan.. Dikeluarkanny handphone mungilny yang memiliki fasilitas vidio phone itu dari saku celanany.. Sambil terus meremasremas Lolokny sendiri,, Hendra merekam hubungan ngesex Tanteny dan Bli Sudarma itu..
Sang Tante menggenjotkan pantatny naik turun dengan keras.. Bli Sudarma membalas mmbls genjotn yg gack klh juga.. terdengr jelas suara tepokan,,
PPllooCCkkkk. PPllooCCkkkk. PPllooCCkkkk. PPllooCCkkkk.,,
Kamar kerja Om Hendra diramaikan dengan swara2 erangan,, jeritan,, desahan dari mulut Tanteny dan Bli Sudarma..
HAAAHHHHHH. HAAAHHHHHH. HAAAHHHHHH. oooHHHHH. Tekan lebihh. Dalamhh,, erangan Bli Sudarma kedua tanganny meremasremas Susu Tante Silvy..
hhhIIIhhhhh. Beginihh. hhhIIIhhhhh.,,
Lagihh. OhoooHHHHH. AAAHHHHHH. AAAHHHHHH.,,
hhhIIIhhhhh. Beginihh. oooHHHHH.,,
YYeeSSSShh. YYeeSSSShh. Teeerrruuusssss. oooHHHHH. oooHHHHH.,,
tiba2 tubuh Bli Sudarma yang tadi berbaring bangkit.. Dalam posisi tubuh menekuk,, kepalany bersarang di Susu sang Tante yang besar dan bergoyanggoyang akibat genjotan yang mereka lakukan.. Dengan buas Bli Sudarma mengisap tetek Susu sang Tante yang kemerahan..
oooHHHHH. DharmAAAHHHHHH. Nakalhh kmuhh. oooHHHHH. eennaacckkkk.,, Tante meracau semakin menggila..
Kepalany bergoyang ke kiri ke kanan.. Rambut yang sebahuny yang basah oleh keringat berkibarkibar.. Tante Silvy benar2 keenakan.. Kedua tangan sang Tante memeluk punggung kekar Bli Sudarma dengan kuat.. Tak sampai lima menit dalam posisi seperti itu.. tiba2 genjotan Tante berhenti.. Mulutny meraung keras.. Pantatny bergetar menekan keras menggencet selangkangan Bli Sudarma.. Tubuhny yang basah oleh keringat berkelojotan..
AAAHHHHHH. Akuhh sampaihh. OOOuuuhhhhh.,, erangny..
Bli Sudarma terus menyelomoti Susu sang Tante.. Semenit kemudian kepala sang Tante terlihat bertumpu ke bahu Bli Sudarma.. Ia lemas karena orgasmeny..
Saya lanjuthh yah Tante.,, kata Bli Sudarma minta ijin melanjutkan.. Soalny orgasmeny belum datang..
Silakan DharmAAAHHHHHH. oooHHHHH.,, suara sang Tante terdengar lemas..
Bli Sudarma kemudian turun dari meja kerja itu.. Tanpa melepaskan Lolokny dari lobang Memek sang Tante,, Bli Sudarma membopong tubuh sang Tante kemudian membaringkanny telentang diatas lantai yang berkarpet.. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaanny menyetubuhi sang Tante.. Hendra bisa melihat tubuh Tanteny yang lemas itu dikentot Bli Sudarma dengan penuh keperkasaan..
Sakit Tante. AAAHHHHHH.??
Terus sayanghh. Saya istirahat sebentar AAAHHHHHH. kmuhh Teeerrruuusssss ajAAAHHHHHH. oooHHHHH.
Tak sampai lima menit sang Tante kembali bergairah.. Pantatny kembali bergerakgerak dengan luwes membalas gerakan Bli Sudarma.. Rupany sang Tante tak mau hany menjadi objek.. tiba2 Tante mmblikkn posisiny,, ditindihny tbuh sang ajudan ganteng yang bersimbah keringat.. Dengan penuh semangat sang Tante kemudian menggenjot pantatny naik turun mengocok batang Lolok Bli Sudarma dengan Memekny yang basah dengan cairan lendirny sendiri,, sambil menciumi mulut ajudan muda ganteng itu dengan binal.. Dari mulutny keluar erangan2,,
Urghh. Urghh. YAAAHHHHHH. YAAAHHHHHH,,
oooHHHHH. Tantehh. oooHHHHH. Buashh. Banget. oooHHHHH.,, racau Bli Sudarma..
kmuhh. Sukaaaaaaa bgttttt. Kanhh.,,
Begitulah.. Permainan cabul antara Tanteny Hendra dan Bli Sudarma yang memakan waktu tak kurang dari dua jam itu akhirny usai dengan skor 62 untuk kemenangan Bli Sudarma.. Maksudny,, sang Tante ngcroot empat kali,, sedangkan Bli Sudarma ngcroot dua kali saja di dalam Memek sang Tante..
Hendra sendiri ngcroot dua kali.. Pejuh kentalny melumuri daun pintu kamar penghubung.. Ia sangat terangsang menyksikan live show sang Tante dan Bli Sudarma.. Ia tak sabar untuk segera dapat mengerjai sang ajudan yang gila ngentot itu..
Dengan tubuh yang masih terasa lemas akibat orgasme,, perlahanlahan Hendra meninggalkan kamar orang tuany.. Pejuhny yang menempel di daun pintu kamar dibersihkanny terlebih dahulu.. Saat meninggalkan kamar,, Hendra,, masih sempat melirik Tanteny dan Bli Sudarma yang berbaring saling berpelukan di lantai.. Keduany terlihat sangat lelah..
Hendra segera melaju kembali dengan sepeda motorny menuju rumah Eka.. Sepanjang perjalanan ia menyusun rencana untuk mengerjai
Tanteny dan Bli Sudarma nanti.. Ia tersenyumsenyum cabul membayangkan rencanany itu..
Setiba di rumah Eka,, teman sekolahny itu sudah menunggu di teras sambil duduk santai membaca majalah remaja.. Eka menggenakan tshirt putih polos dan celana jeans biru plus topi pet hitam.. Wajah gantengny tersenyum senang menymbut kedatangan Hendra..
Kok telat Ndre?? tanyny..
Sorry Vin.. Ada urusan sama Tante tadi,, jawab Hendra nyengir,, Kita lgsung brkt aja yuk.. hmpr dah jam 10 nieh,,
Eka mengiyakan,, segera ia duduk di boncengan,, rapat di belakang tubuh Hendra.. Tanganny diletakkanny di paha Hendra.. Kemudian kedua remaja SMU itu melaju menuju sekolah mereka..
Kok gack bawa baju olah raga Vin?? tany Hendra di tengah perjalanan..
gack usahlah.. Gue kan bukan anak Volly.. Kesana juga cuman mau liat permainan Volly doang,, jawabny..
Liat permainanny,, atau liat pemainny nih?? tany Hendra menggoda..
Duaduany.. Hehehe,,
Vin,, ini perasaan gue aja tahu emang benar sih??
Maksud lo??
Elo ngaceng ya?? Kok rasany ngeganjal nih di bokong gue,,
Enak aja!
Hendra tertawa ngakak.. Sementara Eka tersenyum malu di boncengan.. Lolokny memang sudah ngaceng sejak nungguin Hendra dari tadi.. Ia tak sabar menantikan apa yang akan terjadi nanti di sekolah..

Monday, July 30, 2018

Jadi Korban Pelampiasan Nafsu di Dalam Keluarga


LASKARQQAku dibilang anak dari keluarga broken home sepertinya tidak bisa, walaupun ayah dan ibuku bercerai saat aku baru saja diterima di perguruan tinggi. Adanya ketidakcocokan serta pertengkaran-pertengkaran yang sering kali terjadi terpaksa meluluh-lantakkan pernikahan mereka yang saat itu telah berusia 18 tahun dengan aku sebagai putri tunggal mereka.

Keluargaku saat itu hidup berkecukupan. Ayahku yang berkedudukan sebagai seorang pejabat teras sebuah departemen memang memberikan nafkah yang cukup bagiku dan ibuku, walaupun ia bekerja secara jujur dan jauh dari korupsi, tidak seperti pejabat-pejabat lain pada umumnya.
Dari segi materi, memang aku tidak memiliki masalah, begitu pula dari segi fisikku. Kuakui, wajahku terbilang cantik, mata indah, hidung bangir, serta dada yang membusung walau tidak terlalu besar ukurannya. Semua itu ditambah dengan tubuhku yang tinggi semampai, sedikit lebih tinggi dari rata-rata gadis seusiaku, memang membuatku lebih menonjol dibandingkan yang lain. Bahkan aku menjadi mahasiswi baru primadona di kampus.
Akan tetapi karena pengawasan orang tuaku yang ketat, di samping pendidikan agamaku yang cukup kuat, aku menjadi seperti anak mama. Tidak seperti remaja-remaja pada umumnya, aku tidak pernah pergi keluyuran ke luar rumah tanpa ditemani ayah atau ibu.
Namun setelah perceraian itu terjadi, dan aku ikut ibuku yang menikah lagi dua bulan kemudian dengan duda berputra satu, seorang pengusaha restoran yang cukup sukses, aku mulai berani pergi keluar rumah tanpa didampingi salah satu dari orang tuaku. Itupun masih jarang sekali. Bahkan ke diskotik pun aku hanya pernah satu kali. Itu juga setelah dibujuk rayu oleh seorang laki-laki teman kuliahku. Setelah itu aku kapok. Mungkin karena baru pertama kali ini aku pergi ke diskotik, baru saja duduk sepuluh menit, aku sudah merasakan pusing, tidak tahan dengan suara musik disko yang bising berdentam-dentam, ditambah dengan bau asap rokok yang memenuhi ruangan diskotik tersebut.
“Don, kepala gue pusing. Kita pulang aja yuk.”
“Alaa, Mer. Kita kan baru sampai di sini. Masa belum apa-apa udah mau pulang. Rugi kan. Lagian kan masih sore.”
“Tapi gue udah tidak tahan lagi.”
“Gini deh, Mer. Gue kasih elu obat penghilang pusing.”
Temanku itu memberikanku tablet yang berwarna putih. Aku pun langsung menelan obat sakit kepala yang diberikannya.
“Gimana sekarang rasanya? Enak kan?”
Aku mengangguk. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Tapi sekonyong-konyong mataku berkunang-kunang. Semacam aliran aneh menjalari sekujur tubuhku. Antara sadar dan tidak sadar, kulihat temanku itu tersenyum. Kurasakan ia memapahku keluar diskotik. “Ini cewek lagi mabuk”, katanya kepada petugas keamanan diskotik yang menanyainya. Lalu ia menjalankan mobilnya ke sebuah motel yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
Setiba di motel, temanku memapahku yang terhuyung-huyung masuk ke dalam sebuah kamar. Ia membaringkan tubuhku yang tampak menggeliat-geliat di atas ranjang. Kemudian ia menindih tubuhku yang tergeletak tak berdaya di kasur. Temanku dengan gemas mencium bibirku yang merekah mengundang. Kedua belah buah dadaku yang ranum dan kenyal merapat pada dadanya. Darah kelaki-lakiannya dengan cepat semakin tergugah untuk menggagahiku. “Ouuhh.. Don!” desahku.
Temanku meraih tubuhku yang ramping. Ia segera mendekapku dan mengulum bibirku yang ranum. Lalu diciuminya bagian telinga dan leherku. Aku mulai menggerinjal-gerinjal. Sementara itu tangannya mulai membuka satu persatu kancing blus yang kupakai. Kemudian dengan sekali sentakan kasar, ia menarik lepas tali BH-ku, sehingga tubuh bagian atasku terbuka lebar, siap untuk dijelajahi. Tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang berukuran cukup besar itu. Terasa suatu kenikmatan tersendiri pada syarafku ketika buah dadaku dipermainkan olehnya. “Don.. Ouuhh.. Ouuhh..” rintihku saat tangan temanku sedang asyik menjamah buah dadaku.
Tak lama kemudian tangannya setelah puas berpetualang di buah dadaku sebelah kiri, kini berpindah ke buah dadaku yang satu lagi, sedangkan lidahnya masih menggumuli lidahku dalam ciuman-ciumannya yang penuh desakan nafsu yang semakin menjadi-jadi. Lalu ia menanggalkan celana panjangku. Tampaklah pahaku yang putih dan mulus itu. Matanya terbelalak melihatnya. Temanku itu mulai menyelusupkan tangannya ke balik celana dalamku yang berwarna kuning muda. Dia mulai meremas-remas kedua belah gumpalan pantatku yang memang montok itu.
“Ouh.. Ouuh.. Jangan, Don! Jangan! Ouuhh..” jeritku ketika jari-jemari temanku mulai menyentuh bibir kewanitaanku. Namun jeritanku itu tak diindahkannya, sebaliknya ia menjadi semakin bergairah. Ibu jarinya mengurut-urut klitorisku dari atas ke bawah berulang-ulang. Aku semakin menggerinjal-gerinjal dan berulang kali menjerit.
Kepala temanku turun ke arah dadaku. Ia menciumi belahan buah dadaku yang laksana lembah di antara dua buah gunung yang menjulang tinggi. Aku yang seperti tersihir, semakin menggerinjal-gerinjal dan merintih tatkala ia menciumi ujung buah dadaku yang kemerahan. Tiba-tiba aku seperti terkejut ketika lidahnya mulai menjilati ujung puting susuku yang tidak terlalu tinggi tapi mulai mengeras dan tampak menggiurkan. Seperti mendapat kekuatanku kembali, segera kutampar wajahnya. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Aku segera mengenakan pakaianku kembali dan berlari ke luar kamar. Ia hanya terpana memandangiku. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempat-tempat seperti itu lagi.
Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku. Kehidupan kami berjalan normal seperti layaknya keluarga bahagia. Aku pun yang saat itu sudah di semester enam kuliahku, diterima bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta nasional papan atas. Meskipun aku belum selesai kuliah, namun berkat penampilanku yang menarik dan keramah-tamahanku, aku bisa diterima di situ, sehingga aku pun berhak mengenakan pakaian seragam baju atas berwarna putih agak krem, dengan blazer merah yang sewarna dengan rokku yang ujungnya sedikit di atas lutut.
Sampai suatu saat, tiba-tiba ibuku terkena serangan jantung. Setelah diopname selama dua hari, ibuku wafat meninggalkan aku. Rasanya seperti langit runtuh menimpaku saat itu. Sejak itu, aku hanya tinggal bertiga dengan ayah tiriku dan Rio.
Sepeninggal ibuku, sikap Rio dan ayahnya mulai berubah. Mereka berdua beberapa kali mulai bersikap kurang ajar terhadapku, terutama Rio. Bahkan suatu hari saat aku ketiduran di sofa karena kecapaian bekerja di kantor, tanpa kusadari ia memasukkan tangannya ke dalam rok yang kupakai dan meraba paha dan selangkanganku. Ketika aku terjaga dan memarahinya, Rio malah mengancamku. Kemudian ia bahkan melepaskan celana dalamku. Tetapi untung saja, setelah itu ia tidak berbuat lebih jauh. Ia hanya memandangi kewanitaanku yang belum banyak ditumbuhi bulu sambil menelan air liurnya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkanku yang langsung saja merapikan pakaianku kembali. Selain itu, Rio sering kutangkap basah mengintip tubuhku yang bugil sedang mandi melalui lubang angin kamar mandi. Aku masih berlapang dada menerima segala perlakuan itu. Pada saat itu aku baru saja pulang kerja dari kantor. Ah, rasanya hari ini lelah sekali. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabah-nasabah bank tempatku bekerja yang menarik uang secara besar-besaran. Entah karena apa, hari ini bank tempatku bekerja terkena rush. Ingin rasanya aku langsung mandi. Tetapi kulihat pintu kamar mandi tertutup dan sedang ada orang yang mandi di dalamnya. Kubatalkan niatku untuk mandi. Kupikir sambil menunggu kamar mandi kosong, lebih baik aku berbaring dulu melepaskan penat di kamar. Akhirnya setelah melepas sepatu dan menanggalkan blazer yang kukenakan, aku pun langsung membaringkan tubuhku tengkurap di atas kasur di kamar tidurnya. Ah, terasa nikmatnya tidur di kasur yang demikian empuknya. Tak terasa, karena rasa kantuk yang tak tertahankan lagi, aku pun tertidur tanpa sempat berubah posisi.
Aku tak menyadari ada seseorang membuka pintu kamarku dengan perlahan-lahan, hampir tak menimbulkan suara. Orang itu lalu dengan mengendap-endap menghampiriku yang masih terlelap. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur. Tiba-tiba ia menindih tubuhku yang masih tengkurap, sementara tangannya meremas-remas belahan pantatku. Aku seketika itu juga bangun dan meronta-ronta sekuat tenaga. Namun orang itu lebih kuat, ia melepaskan rok yang kukenakan. Kemudian dengan secepat kilat, ia menyelipkan tangannya ke dalam celana dalamku. Dengan ganasnya, ia meremas-remas gumpalan pantatku yang montok. Aku semakin memberontak sewaktu tangan orang itu mulai mempermainkan bibir kewanitaanku dengan ahlinya. Sekali-sekali aku mendelik-delik saat jari telunjuknya dengan sengaja berulang kali menyentil-nyentil klitorisku.
“Aahh! Jangaann! Aaahh..!” aku berteriak-teriak keras ketika orang itu menyodokkan jari telunjuk dan jari tengahnya sekaligus ke dalam kewanitaanku yang masih sempit itu, setelah celana dalamku ditanggalkannya. Akan tetapi ia mengacuhkanku. Tanpa mempedulikan aku yang terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan, jari-jarinya terus-menerus merambahi lubang kenikmatanku itu, semakin lama semakin tinggi intensitasnya.
Aku bersyukur dalam hati waktu orang itu menghentikan perbuatan gilanya. Akan tetapi tampaknya itu tidak bertahan lama. Dengan hentakan kasar, orang itu membalikkan tubuhku sehingga tertelentang menghadapnya. Aku terperanjat sekali mengetahui siapa orang itu sebenarnya.
“Rio.. Kamu..” Rio hanya menyeringai buas.
“Eh, Mer. Sekarang elu boleh berteriak-teriak sepuasnya, tidak ada lagi orang yang bakalan menolong elu. Apalagi si nenek tua itu sudah mampus!”
Astaga Rio menyebut ibuku, ibu tirinya sendiri, sebagai nenek tua. Keparat.
“Rio! Jangan, Rio! Jangan lakukan ini! Gue kan kakak elu sendiri! Jangan!”
“Kakak? Denger, Mer. Gue tidak pernah nganggap elu kakak gue. Siapa suruh elu jadi kakak gue. Yang gue tau cuma papa gue kawin sama nenek tua, mama elu!”
“Rio!”
“Elu kan cewek, Mer. Papa udah ngebiayain elu hidup dan kuliah. Kan tidak ada salahnya gue sebagai anaknya ngewakilin dia untuk meminta imbalan dari elu. Bales budi dong!”
“Iya, Rio. Tapi bukan begini caranya!”
“Heh, yang gue butuhin cuman tubuh molek elu, tidak mau yang lain. Gue tidak mau tau, elu mau kasih apa tidak!”
“Errgh..”
Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mulut Rio secepat kilat memagut mulutku. Dengan memaksa ia melumat bibirku yang merekah itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas. Aku mencoba meronta-ronta melepaskan diri. Tapi cekalan tangan Rio jauh lebih kuat, membuatku tak berdaya. “Akh!” Rio kesakitan sewaktu kugigit lidahnya dengan cukup keras. Tapi, “Plak!” Ia menampar pipiku dengan keras, membuat mataku berkunang-kunang. Kugeleng-gelengkan kepalaku yang terasa seperti berputar-putar.
Tanpa mau membuang-buang waktu lagi, Rio mengeluarkan beberapa utas tali sepatu dari dalam saku celananya. Kemudian ia membentangkan kedua tanganku, dan mengikatnya masing-masing di ujung kiri dan kanan tempat tidur. Demikian juga kedua kakiku, tak luput diikatnya, sehingga tubuhku menjadi terpentang tak berdaya diikat di keempat arah. Oleh karena kencangnya ikatannya itu, tubuhku tertarik cukup kencang, membuat dadaku tambah tegak membusung. Melihat pemandangan yang indah ini membuat mata Rio tambah menyalang-nyalang bernafsu.
Tangan Rio mencengkeram kerah blus yang kukenakan. Satu persatu dibukanya kancing penutup blusku. Setelah kancing-kancing blusku terbuka semua, ditariknya blusku itu ke atas. Kemudian dengan sekali sentakan, ditariknya lepas tali pengikat BH-ku, sehingga buah dadaku yang membusung itu terhampar bebas di depannya.
“Wow! Elu punya toket bagus gini kok tidak bilang-bilang, Mer! Auum!” Rio langsung melahap buah dadaku yang ranum itu. Gelitikan-gelitikan lidahnya pada ujung puting susuku membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian. Tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa. Semakin keras aku meronta-ronta tampaknya ikatan tanganku semakin kencang. Sakit sekali rasanya tanganku ini. Jadi aku hanya membiarkan buah dada dan puting susuku dilumat Rio sebebas yang ia suka. Aku hanya bisa menengadahkan kepalaku menghadap langit-langit, memikirkan nasibku yang sial ini.
“Aaarrghh.. Rio! Jangaann..!” Lamunanku buyar ketika terasa sakit di selangkanganku. Ternyata Rio mulai menghujamkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Tambah lama bertambah cepat, membuat tubuhku tersentak-sentak ke atas. Melihat aku yang sudah tergeletak pasrah, memberikan rangsangan yang lebih hebat lagi pada Rio. Dengan sekuat tenaga ia menambah dorongan kemaluannya masuk-keluar dalam kewanitaanku. Membuatku meronta-ronta tak karuan.
“Urrgh..” Akhirnya Rio sudah tidak dapat menahan lagi gejolak nafsu di dalam tubuhnya. Kemaluannya menyemprotkan cairan-cairan putih kental di dalam kewanitaanku. Sebagian berceceran di atas sprei sewaktu ia mengeluarkan kemaluannya, bercampur dengan darah yang mengalir dari dalam kewanitaanku, menandakan selaput daraku sudah robek olehnya. Karena kelelahan, tubuh Rio langsung tergolek di samping tubuhku yang bermandikan keringat dengan nafas terengah-engah.
“Braak!” Aku dan Rio terkejut mendengar pintu kamar terbuka ditendang cukup keras. Lega hatiku melihat siapa yang melakukannya.
“Papa!”
“Rio! Apa-apa sih kamu ini?! Cepat kamu bebaskan Merry!”
Ah, akhirnya neraka jahanam ini berakhir juga, pikirku. Rio mematuhi perintah ayahnya. Segera dibukanya seluruh ikatan di tangan dan kakiku. Aku bangkit dan segera berlari menghambur ke arah ayah tiriku.
“Sudahlah, Mer. Maafin Rio ya. Itu kan sudah terjadi”, kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya.
“Tapi, Pa. Gimana nasib Meriska? Gimana, Pa? Aaahh.. Papaa!” tangisanku berubah menjadi jeritan seketika itu juga tatkala ayah tiriku mengangkat tubuhku sedikit ke atas kemudian ia menghujamkan kemaluannya yang sudah dikeluarkannya dari dalam celananya ke dalam kewanitaanku.
“Aaahh.. Papaa.. Jangaan!” Aku meronta-ronta keras. Namun dekapan ayah tiriku yang begitu kencang membuat rontaanku itu tidak berarti apa-apa bagi dirinya. Ayah tiriku semakin ganas menyodok-nyodokkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Ah! Ayah dan anak sama saja, pikirku, begitu teganya mereka menyetubuhi anak dan kakak tiri mereka sendiri.
Aku menjerit panjang kesakitan sewaktu Rio yang sudah bangkit dari tempat tidur memasukkan kemaluannya ke dalam lubang anusku. Aku merasakan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi. Ayah dan kakak tiriku itu sama-sama menghunjam tubuhku yang tak berdaya dari kedua arah, depan dan belakang. Akibat kelelahan bercampur dengan kesakitan yang tak terhingga akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi, tak sadarkan diri. Aku sudah tidak ingat lagi apakah Rio dan ayahnya masih mengagahiku atau tidak setelah itu.
Beberapa bulan telah berlalu. Aku merasa mual dan berkali-kali muntah di kamar mandi. Akhirnya aku memeriksakan diriku ke dokter. Ternyata aku dinyatakan positif hamil. Hasil diagnosa dokter ini bagaikan gada raksasa yang menghantam wajahku. Aku mengandung? Kebingungan-kebingungan terus-menerus menyelimuti benakku. Aku tidak tahu secara pasti, siapa ayah dari anak yang sekarang ada di kandunganku ini. Ayah tiriku atau Rio. Hanya mereka berdua yang pernah menyetubuhiku. Aku bingung, apa status anak dalam kandunganku ini. Yang pasti ia adalah anakku. Lalu apakah ia juga sekaligus adikku alias anak ayah tiriku? Ataukah ia juga sekaligus keponakanku sebab ia adalah anak adik tiriku sendiri?
Tolongkah aku, wahai pembaca yang budiman!
TAMAT

Kisah Seks Bejat Mamiku Part 1


LASKARQQAku Iwan, masih kelas 3 di salah satu SMU di Jakarta Selatan dan tinggal bersama Papa dan Mami serta adikku Ita yang sekolahnya sama dengan sekolahku, hanya Ita masih duduk di kelas 1 dan masuk siang, sedangkan semua kelas 3 kebagian masuk pagi. Di rumahku juga ada seorang pembantu yang agak tua. Perlu diketahui, Mama kandungku telah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat sakit, dan Papaku mengawini adiknya Mama kira-kira setahun yang lalu. Aku serta Ita memanggilnya Mami yang sebelumnya memang sudah kami kenal dengan baik. Habis dia kan tanteku juga.

Mami ini dicerai oleh suaminya, dengar-dengar sih katanya karena sudah kawin 4 tahun tapi belum punya anak. Nah, mungkin Papa merasa sudah duda serta tanteku sudah janda dan apalagi mereka sudah kenal baik sebelumnya, jadilah mereka kawin.
Nah, ceritaku ini terjadi kira-kira 3 minggu yang lalu di siang hari ketika aku pulang dari sekolah. Setelah ganti dengan celana pendek dan kaos singlet saja, aku langsung makan yang telah disediakan oleh Pembantu. Setelah selesai makan, aku bermaksud ke ruang tamu mau mendengerkan lagu-lagu dari Laser Disc. Tetapi sewaktu melewati kamar Papa dan Mami yang pintunya agak terbuka sedikit, kudengar suara-suara yang agak aneh dan berisik. Karena ingin tahu suara apa itu, kuhentikan langkahku dan kuintip dari pintu kamar Papa dan Mami yang agak terbuka sedikit tadi. Ternyata Mami sedang duduk membelakangiku dan sedang melihat TV.
Setelah keperhatikan lebih cermat, ternyata Mami sedang nonton film blue dari Laser Disc. Dan kuperhatikan lagi, tangan kiri Mami bergerak maju mundur di sekitar bagian pahanya. Mamiku ini walau sudah agak berumur kira-kira 37 tahun, tapi aku sangat bangga, karena banyak mata yang mengaguminya kalau kami sedang jalan-jalan di Mall, mungkin karena Mami agak seksi dan warna kulitnya yang putih bersih serta bentuk dada yang menonjol serasi. Itu komentar yang pernah kudengar dari beberapa orang temannya Mami.
Mami yang sedang nonton TV itu mengenakan baju atau daster merah muda tipis dan sangat minim, habis sih pahanya hampir kelihatan semua, bulu ketiaknya yang lebat kelihatan juga. Sayangnya Mami menghadap ke depan, sehingga yang terlihat hanya punggungnya yang putih bersih. Karena selama ini aku belum pernah melihat film seperti itu, lalu kuputuskan untuk melihatnya terus dari celah pintu itu dan melihat adegan demi adegan. Batang penisku tidak terasa menjadi tegang sekali.
Saking asyiknya nonton sambil berdiri, ditambah nafsuku makin meninggi, tidak terasa berdiriku menjadi tidak tenang dan dengkulku menyenggol pintu kamar Mami dengan keras. Tapi dengan cepat aku mundur menjauhi pintu.
“Iwaaan.., kamukah itu..?” kudengar suara Mami memanggilku, tapi aku tidak menjawab.
“Iwaaan.., sini.. doong.. naaak..!” kudengar kembali Mami memanggilku.
Karena tidak enak, lalu aku kembali menuju pintu kamar Mami dan kujawab, “Ada.. apa.. Mam..?” sambil kuperlihatkan kepalaku.
“Sini.. Wan..!” kata Mami sambil melambaikan tangannya dan film blue tadi masih terus berjalan.
Karena ingin melanjutkan nonton film tadi, lalu aku masuk kamar Mami dan Mami melanjutkan kata-katanya.
“Wan, sini.., duduk dekat Mami, Mami tahu kok kalau Iwan pingin nonton film itu kan..?” lanjut Mami sambil menunjuk TV.
“Sini.. Wan.. kamu sudah besar.. Sudah seharusnya kamu juga tahu.”
“Maaf ya Mam, saya telah mengganggu Mami,” kataku.
“Aaahhh.. kamu ini,” kata Mami. “Sudahlah, duduk sini.. kita nonton sama-sama,” lanjut Mami sambil mencium pipiku.
Perasaanku menjadi tidak karu-karuan bercampur malu ketika pipiku dicium Mami, apalagi tercium bau minyak wangi yang dipakainya terasa harum menusuk hidungku, sehingga nafsuku makin menjadi-jadi. Setelah beberapa saat hanya diam saja dengan mata kami tetap tertuju ke arah TV, tiba-tiba aku dikejutkan dengan pertanyaan Mami.
“Waan, kamu.. tadi sudah lama ya.. nonton film semi nya dari pintu..?”
“I… ya Mam,” jawabku malu tanpa menengok Mami.
“Jadi.. Iwan.. tahu.. Mami.. lagi ngapain..?” tanya Mami lagi dan lagi-lagi hanya kujawab pendek dengan tanpa menoleh ke Mami.
“Waaan..,” kembali Mami memanggilku, tapi kali ini suaranya terdengar agak lain.
Dan ketika kuberanikan menatap wajah Mami, kulihat kedua mata Mami agak berair.
“Waan, Iwan. Jangan sampai salah.. yaaa, Mami sering nonton film seperti ini bersama Papamu, yaaah.. Mami sangka Mami bisa mengembalikan kondisi Papamu kembali. Tapi.., sampai saat ini masih belum.”
“Lho.., memangnya Papa kenapa Maaam..?” tanyaku karena betul-betul aku tidak mengerti apa yang dimaksud Mami.
“Aduuh.., Iwaaan gimana sih menjelasinnya sama kamu..? Kok kamu sepertinya nggak ngerti sama sekali,” kata Mami.
“Betuuul Mam..” jawabku, “Iwan betul-betul nggak ngerti.. kenapa sih dengan Papa..?” tanyaku kembali.
Lalu Mami menggeser duduknya mendekatiku sehingga sekarang Mami duduknya sudah menempel denganku, sehingga bau wangi Mami terasa sekali dan membuat penisku yang dari tadi sudah tegang karena lihat film menjadi lebih tegang lagi.
“Waaan,” kata Mami perlahan, “Papamu sudah kira-kira enam bulan ini.., ininya.. (sambil tiba-tiba tangan kanannya meremas batang kemaluanku) nggak bisa bangun.”
“Aaahhh.. Mami.” sahutku sambil berusaha melepaskan tangan Mami dari penisku, walaupun rasa penisku berdenyut enak, tapi aku berusaha melepas tangan Mami, karena malu dan apalagi selama ini belum pernah penisku dipegang oleh orang lain.
“Waaan, Mami kan masih kepingin. Tapi.. yaaahh.. karena punya Papamu nggak bisa bangun, jadi.. terpaksa Mami melakukan seperti yang Iwan lihat tadi.
“Maaam, Mami kepingin apa sih.. dan tadi.. Iwan.. nggak lihat jelas.., Mami.. tadi ngapain sih..?” tanyaku lebih berani.
“Waaan, Mami kan masih kepingin seperti yang di TV itu lho.. dan.. ini.. lho.. Waan,” sambil tangannya mengambil sesuatu dari bawah bantal dan diperlihatkan padaku.
Setelah kulihat, ternyata manian yang berbentuk penis. Oh.., rupanya itu yang tadi dimaju-mundurkan. Lalu kami berdiam sejenak dan kembali melihat TV yang adegannya semakin seru.
“Waan..,” tiba-tiba aku dikejutkan oleh panggilan Mami.
“Yaa.. Maaam,” kujawab sambil menengok ke arah Mami.
“Waan, boleh… Mami… lihat punyamu..? Mami rasakan tadi kok.. punyamu… besar betul dan.., keras lagi..?” lanjut Mami.
“Maam, jangan.. aaahh.. Maaam, Iwan.. maluuu.., apalagi nanti ada orang lain yang.. lihat,” jawabku sekenanya.
“Lhooo.., kok sama.. Mami sendiri maluuu..? Disini kan cuman kita berdua. Waaan, boleh yaa.. Waan..?”
Dan tanpa menunggu jawabanku, bahuku didorong Mami hingga rebah di tempat tidur, dan Mami dengan cekatan membuka resleting celana pendekku dan menarik turun bersama CD sampai terlepas dari badanku.
“Aduuh… Waan, besar betul punyamu ini,” komentar Mami sambil memegang batang kemaluanku dan memijatnya pelan.
Aku hanya memejamkan mataku sambil menikmati enaknya penisku yang sedang dipegang Mami.
“Waaan.., Mami enakin seperti yang di TV.. yaa..?” kata Mami lagi, dan kudiamkan saja pertanyaan Mami sambil menunggu dan ingin tahu apa yang akan dilakukan Mami.
Tiba-tiba.., “Huuub..,” penisku yang berdiri tegak itu telah masuk semuanya ke dalam mulut Mami dan sangat terasa sekali ketika Mami mulai menghisap dan mengocok maju mundur dengan mulutnya.
“Maaam.. Maam.. eenaak.. Maaam.. eenaak.. Maam..,” tidak terasa aku berkomentar seperti itu karena merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Dari mulut Mami yang tersumpal dengan batang kemaluanku hanya terdengar bunyi, “Hhhmm.. hhm.. hhmm..,” sambil tangannya mempermainkan kedua biji kemaluanku.
Batang kemaluanku terasa seperti tersedot-sedot, dan kadang terasa lidah Mami mengenai kepala penisku dan menambah keenakan yang pertama kali kualami, dan secara tidak sadar kepala dan rambut Mami kuremas-remas dengan kedua tanganku sambil sesekali kutekan kepalanya, sehingga seluruh batang kemaluanku terasa masuk semua ke dalam mulut Mami.
Beberapa menit kemudian, Mami melepaskan batang kemaluanku dari mulutnya, dan datang menghampiriku sambil mencium pipiku dan berbisik di dekat telingaku.
“Waan, enaaak… Waan..?”
Karena memang aku menjadi keenakan, dan apalagi ini menjadi pengalaman pertamaku, kujawab dengan jujur.
“Iyaa.. Maaam.., enaak sekali rasanya.”
Lalu kudengar Mami berbisik lagi, “Iwaan.., sekarang.. Iwan mau kan tolongin Mami..?”
Karena aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mami, langsung saja kutanyakan, “Maam, tolongin.. apaan..?”
“Aduh.. Waan,” kata Mami lagi seperti keheranan.
“Itu.. lho Waan.. tolong ciuum tetek Mami seperti yang Iwan lihat di TV itu..!” kata Mami sambil melepaskan dasternya sambil terus tiduran.
Sekarang baru kulihat dari dekat payudara Mami yang sangat putih dengan kepala susunya yang kecoklatan. Karena nafsuku sudah meninggi dan ingin segera mencoba apa yang kulihat di TV tadi, tanpa menjawab kata-kata Mami, langsung saja aku bangun dan mendekati payudara Mami. Pertama kucium payudara Mami kanan-kiri dengan kepalaku agak kutekan, lalu seperti yang kulihat tadi di TV, kujilati payudaranya dan sesekali kusedot puting susu Mami yang kecoklatan itu, dan mungkin karena keenakan, kudengar Mami berguman.
“Iwaan.. Waan teruss.. Waan.. enaak.. teruus.. Waan..!” sambil kedua tangannya meremas-remas rambutku.
Mendengar kata-kata Mami itu, nafsuku semakin meninggi dan berusaha mencoba membuat Mami lebih enak, apalagi kuingat bahwa Mami sudah enam bulan ini tidak pernah mendapatkannya dari Papa. Sedotan dan jilatanku di sekitar payudara Mami lebih kupergiat, apalagi sekarang tangan kanan bukan lagi meremas rambutku, tetapi sudah meremas dan mengocok batang kemaluanku. Sambil berguman, “Enaak.., Waan.. enaak. Teruuss Waan..!” dan kembali kedua tangan Mami meremas rambutku lebih kuat lagi.
Setelah beberapa saat, terasa remasan-remasan tangan Mami di kepalaku itu seperti diikuti dengan dorongan agar kepalaku turun ke bawah. Walaupun tanpa kata-kata dan masih ingat dengan adegan TV yang aku sempat tonton tadi, aku menjadi yakin kalau sekarang Mami menyuruhku untuk pindah dan mencium bagian vaginanya. Tanpa menunggu dorongan Mami lagi, kuturunkan badanku pelan-pelan sambil kujilati bagian badan Mami mulai dari perut, terus ke pusar dan terus turun ke bagian bawah pusar Mami, dan sekarang sudah sampai di kemaluan Mami yang masih tertutup dengan CD-nya. Tercium bau kemaluan Mami yang membuatku semakin bernafsu.
“Waaan..,” kudengar panggilan Mami dengan kedua tangannya masih tetap meremas-remas rambutku.
“Too.. loong.. buu.. kaa celananya Waaan..!” katanya lanjut.
Tanpa menunggu lebih lama, dan karena aku ingin melihat bentuk aslinya vagina itu seperti bagaimana, pelan-pelan kutarik turun celana dalam Mami. Ketika aku kesulitan menarik turun lebih lanjut karena terdindih pantat Mami, Mami mengangkat pantatnya sedikit, dan dengan mudah CD-nya kulepas.
Kulihat di hadapanku, vagina Mami yang sekelilingnya ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang halus. Tanpa ada yang menyuruh, lalu kucium dan kujilati di bagian belahan vagina Mami sambil mempraktekkan seperti apa yang kulihat di film tadi, sedangkan Mami segera menggerakkan pantatnya, dan kepalaku kembali diremas-remas dan ditekannya. Ketika aku coba menjulurkan lidahku menusuk belahan kemaluan Mami, terasa lidahku terkena cairan dari dalam vagina Mami yang agak asin, sedangkan kedua kaki Mami secara perlahan-lahan direnggangkan.
Karena tidak sabar, kubantu membuka kedua kaki Mami sehingga sekarang kakinya terbuka lebar, dan aku berada di tengah. Dan karena aku ingin tahu lebih jauh tentang vagina, apalagi baru kali ini kulihat dari jarak sangat dekat, maka kugunakan kedua tanganku untuk membuka belahan kemaluan Mami. Kulihat dengan jelas di bagian atas ada seperti daging menonjol berbentuk seperti kerucut dan ada lubang kecil, dalam pikiranku mungkin ini yang disebut orang klitoris. Sedangkan di bagian dalam vagina Mami, semuanya berwarna kemerahan dan basah oleh cairan. Agak ke bawah lagi terlihat ada bagian yang berlubang sebesar jari kelingking.
Melihat semua isi kemaluan Mami, aku jadi teringat pelajaran Anatomi yang diajarkan di sekolah. Melihat ini semua, nafsuku semakin meninggi dan tanpa ada yang menyuruh lagi dan karena aku baru saja dapat pelajaran dengan melihat film blue barusan, lalu sambil masih memegangi kedua bibir kemaluan Mami, kujilat dan kuhisap klitoris Mami. Tiba-tiba Mami menggelinjang kuat sambil kedua tangannya meremas rambutku makin kuat dan berguman agak kuat.
“Iwaan.. arrchh.. uuuu.. Waan… aarcchh.. enaak Waan.. teruu.. ss.., aarrchh.. aduuh Waan.. enaakk… teruus..!” kudengar Mami mengoceh terus dan membuatku makin bersemangat menghisap dan menyedot seluruh bagian kemaluan Mami.
Dari mulai bibir kemaluan, klitoris, bagian dalam, sampai semuanya kutusuk-tusukkan lidahku ke lubang yang ada di vagina Mami. Inilah mungkin yang membuat gerakan pantat Mami semakin menggila dan terus-terusan mengoceh.
“Aduuh.., Waan.. enaak.. teruuus.., archh.. enak Waan, aduh.. Waaan.. Mamiii.. mauu.., sampee.., aarchh..!”
Kedua kaki Mami sudah melingkar kuat di atas punggungku, dan kepalaku ditekannya kuat-kuat ke dalam vaginanya, sedangkan seluruh wajahkuku sekarang penuh dengan cairan-cairan yang keluar dari vagina Mami, tapi tidak kuperdulikan, habis.. enak sih. Setelah itu ocehan Mami berhenti, dan badan Mami pun terlihat lemas lunglai, dan yang terdengar hanyalah suara nafasnya yang cepat seperti habis lari marathon.
Melihat Mami seperti itu, aku yakin kalau Mami baru saja mencapai puncaknya. Karena kasihan melihat Mami yang sedang terengah-engah kecapaian, kuhentikan jilatan dan sedotan mulutku ke liang senggama Mami, dan kuletakkan kepalaku di paha Mami dan kuelus-elus kemaluan Mami sambil menunggu apa yang akan diminta oleh Mami lagi. Setelah kudengar nafas Mami mulai agak teratur, kurasakan kedua tangan Mami yang masih memegang kepalaku itu berusaha menarikku ke atas sambil berkata lirih.
“Iwaan.. kesiniii… Sayaaang..!”
Aku segera merangkak, menghampiri Mami yang masih tiduran telentang.
Mami sambil menggeser badannya sedikit, melanjutkan kata-katanya, “Siniii.. Waan… tiduran di samping Mami.”
Dengan perasaan kurang enak, malu dan lain sebagainya, aku berusaha menenangkan diri dan tiduran di samping Mami. Mami segera merangkulku dan terus mencium pipiku, dan terus seperti berbisik di dekat telingaku.
“Waan.., kamuuu.. kok.. pintar betul tadi.., Iwan sudah pernah yaaa.. sebelumnya..?”
“Dengan.. pacarmu yaa..?” sambung Mami lagi.
“Beel..uumm.. Maam, swear..,” kataku cepat, “Kan.. belajar dari.. film yang Mami putar tadi.”
“Oohh.., berarti Iwan murid yang cerdas doong,” puji Mami sambil tetap memelukku dan kembali mencium pipiku.
Agar Mami agak senang, kucium juga pipinya, dan entah bagaimana mulanya, tahu-tahu bibirku telah dicium Mami.
Kalau soal ciuman, kuakui aku memang pernah mencium pacarku, jadi ketika lidah Mami menjulur masuk ke mulutku, pelan-pelan kuhisap lidahnya. Mungkin karena lidahnya kusedot, Mami langsung menjadi beringas dan memelukku erat-erat. Ciumannya semakin hot dan tentu saja aku tidak mau mengecewakan Mami, apalagi tangan Mami yang satunya sudah mengocok-ngocok penisku, jadi kuimbangi ciuman Mami sambil salah satu tanganku kuremas-remaskan ke payudara Mami.
Bersambung . . .