Sunday, August 12, 2018

Cerita Sex Abang Tukan Perkosa Melawan Dengan Kakak Hiper Seks


LASKARQQ -  Kali ini admin LaskarIndo.com akan memberikan sebuah Cerita Dewasa Terbaru Abang Tukan Perkosa Melawan Dengan Kakak Hiper Seks. Jangan kemana-mana sebelum anda selesai membaca biar bisa melakukan coli.

Kata Hilda dan Emi kalau menginap di rumah Anis suka diganggu adiknya. Kata mereka yang pernah tidur di sana, adik Anis itu suka menggerayangi, bahkan memperkosanya. Wah, gawat !
Malam ini aku ingin coba coba menginap di rumah Anis. Penasaran . . . ! Seperti apa sih, tampang adiknya yang syaraf itu.
Kutunggu Anis yang lagi piket malam. Tak seberapa lama kemudian, diapun keluar menghampiriku.
”Kau belum pulang, Laras ? Sudah jam sebelas malam, lho ?” kata Anis kepadaku.
”Hari ini aku tak dapat pintu, Nis. Mau nginap di rumahmu saja ?” kataku.
”O, ya . . . yang betul ?” Sambutnya kurang percaya.
”Betul Nis, aku serius lho ?” Karena memang dari sebanyak kawan-kawan yang bekerja di Kompeksi ini hanya akulah yang belum pernah menginap di rumahnya.

Sebenarnya rumah Anis tidak jauh dari rumahku. Tetapi aku penasaran rasanya seperti apa sih, di kutak kutik oleh lelaki.
Kami sudah sampai di rumah Anis.
Di teras duduk seorang lelaki sedang asyik main guitar sendirian.
”Belum tidur kau, Rinto . . . .?” sapa Anis. ”Belum, mbak .. belum ngantuk !”
”Siapa itu, Nis ?” tanyaku.
”Adikku satu satunya, Laras. Bandelnya minta ampun !”
”Akh, anak lelaki itu bandel biasa, Nis !”
Aku pura pura tidak menaruh perhatian pada kata kata Anis mengenai tingkah laku adiknya.
Bagiku, justru menyenangkan sekali dekat dengan anak yang suka usil seperti Rinto ini.
Anis membuat kopi panas untukku, tapi tidak segera kuminum. Karena kulihat Rinto mengintipku dari balik jendela kaca, maka sengaja pahaku kubuka agak lebar lebar. Nah, rasakan nafsu ’nggak lhu anak bandel !
Tiba tiba Anis datang dengan membawa kue kue di piring.

”Ayo di minum kopinya . . obat ngantuk Laras ?” ujarnya kepadaku.
”Tapi mataku sudah tidak tahan, Nis. Percuma minum kopi. Karena aku memang tidak biasa tidur terlalu malam . . . ?” ujarku pura-pura. Padahal biasa semalaman suntuk bersetubuh di kamar.

”O ya. Kalau begitu cepatlah tidur Laras nanti kamu sakit !” seru Anis.
Saat yang kutunggu tunggu telah tiba. Kamarku sengaja tak kukunci. Sedang Anis tidur di kamarnya sendiri.
Lampu kamar sengaja tak kupadamkan agar Rinto dapat jelas memandangi pahaku yang putih dan mulus ini sengaja kubuka lebar.
Mataku pura-pura kupejamkan. Kudengar pintu kamar didorong seseorang dari luar.  Da lam hatiku . . siapa lagi kalau bukan Rinto.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Benar juga kata Hilda dan Emi. Rinto mulai menarik celana dalamku ke bawah. Kubuka mataku lebar lebar mengawasi ulahnya.
”Haaah !” aku pura pura terperanjet.
tiba tiba Rinto mengeluarkan pisau lipat dan meletakan diperutku. Akkh, matilah aku? jangan jangan ia ingin membunuhku.

”Diem . . jangan banyak bicara kalau tidak mau, pisau ini akan merobek perutmu, Laras !” ancamnya.
”Ampuuun, aku jangan dibunuh !”
Aku benar-benar ngeri ! Tidak bisa aku bayangkan tajamnya pisau cukur itu kalau benar benar merobek perutku.
”Awas, kalau teriak kubunuh kau ! Aku tidak pernah main-main !”
Rinto mulai menarik celana dalamku ke bawah sampai terlepas. Tak susangka kalau Anis mempunyai adik lelaki yang tampangnya seram seperti pembunuh berdarah dingin. Namun di balik keseramannya Rinto memang tampan sekali wajahnya.
Mata Rinto nampak bertambah liar dan jalang menatap memekku yang terpampang di depannya.
Kemudian menyuruh aku telanjang.
”Ayo buka semua !” katanya sambil menempelkan pisau cukur itu ke dadaku.
Aku bertambah ngeri oleh perlakuannya yang bahaya itu.
”Iya . . iya . . aku mau telanjang . . dan terserahlah  deh  mau  kau   apakan   tubuhku, ini asalkan jangan sampai engkau melukai

nya pakai pisau cukurmu itu Rinto . . . . . . .
aku lebih senang pisau cukur itu kau letakkan di meja, sayang !” bujukku.
”Baiklah. Tapi awas, kalau kau berani coba-coba menipuku, kubunuh kau nanti !” kembali Rinto mengancamku. Wah, gawat ! Sedikit sedikit bunuh, sedikit bunuh. Dianggapnya aku ini ayam goreng ’kali !
”Tidak, Rin, Aku tak pernah dusta pada siapapun !” kataku meyakinkan.
Perlahan lahan Rinto segera menaruh pisaunya di sebelah tempat tidurku.
”Disini saja, kalau kau nanti teriak, tinggal menusukkan pisau tajam ini ke perutmu, Laras !” gertaknya lagi.
”Ya, disitu juga tidak apa-apa ! Yang penting jangan didekatkan dengan tubuhku, aku takut !” ujarku sambil menanggalkan kutang yang kukenakan.
Sepintas kulirik benda hitam yang bergelayutan di selangkangannya. Hmmm .. tak begitu besar, tetapi kelihatan bengkak dan kaku. Pertanda bahwa Rinto sudah sangat bernafsu untuk segera membenamkan batang ke maluannya keliang memekku yang sudah menganga siap untuk ditusuk.

Dengan sangat terburu buru sekali, si brengsek itu menjebloskan batang kontolnya ke liang memekku yang sempit.
”Akkkkhhhs !”
Jleeep – Sleeeeph – Jllleeseeeeph ! ”Akhsss  .  .  Rin . . pelan pelan, sayang.
Ssssh . . eeeh . . !” rintihku.
Kemudian lelaki muda yang tampan namun brutal ini kembali mengambil pisau cukurnya, lalu ditempelkan di bagian leherku.
Wah, Breengseeeekh ! Lagi nikmat nik- matnya, konsentrasiku langsung buyar gara gara kekonyolannya.
”Jangan mengeluarkan suara, Laras. Aku sembelih lehermu ini nanti !” ujarnya.
”I . . ya sssh eeegh . . tidak . . tidak sssh .
. akh . . aku sudah pasrah kepadamu, Rin ! terserah mau kau apakan aku ini, asal jangan kau lukai kulitku . . !” rintihku setengah takut setengah nikmat.
Rinto hanya membisu, matanya nampak sangar menatapku. Gerakan pantatnya naik turun dengan cepat sekali, sehingga menimbul- kan rasa nikmat di bagian lorong memekku karena tergesek gesek topi bajanya.

Yang bikin aku kesal adalah karena dia tak pernah melepaskan pisau cukurnya yang terus menempel di leherku, bagaimana jadinya kalau nanti benar benar menggores kulit le- herku ?! Padahal tanpa diperkosapun, aku dengan senang hati akan melayaninya.
Mendadak Rinto menggeram hebat di atas tubuhku, dan gerakan pantatnyapun jadi semakin lamban.
”Akkkhhhhss . . sialan . . akkhhuu kelu arrrr, Larraassss . . oogh . . nikmat sekali !”
Crooots ! Croooots ! Crooooots !
Rinto terengah engah, dan keringatnya bercucuran karena benteng pertahananya telah bobol.

Walau aku telah bersusah payah untuk mencapai puncak kenikmatan, namun selalu gagal karena pisau itu terus menempel di lehernya dan membuatnya hilang konsentrasi.
Tak dabat tertolong lagi, batang kemaluan Rinto  semakin  mengecil  dan  tambah menge cil, sehingga tak bisa menggelitik lorong me mekku. Dan akhirnya mencabutnya.
Sialan ! Nafsu sih menggebu gebu, gayanya pakai main ancaman segala. Eh, tidak tahunya baru kegoyangkan beberapa menit saja sudah bocor ! Payah . . !

Rinto tidur membelakangi aku. Nafasnya yang tadinya tersengal-sengal sudah mulai normal kembali. Perlahan lahan kutarik tubuhnya.
”Rin .. tolong dong . . tolong aku, Rin. Aku belum keluar . . kepalaku pusing sekali sayang . .
!” rintihku memohon.
Rinto hanya membisu. Tubuhnya nampak letih karena habis memuntahkan air maninya.
Tiba-tiba rasa takutku hilang menghadapi lelaki brutal yang ternyata tidak mempunyai kemampuan tentang sex ini, dan hanya bikin gatal memekku ini saja.
Aku jadi berang sikapkupun jadi liar dan binal, melebihi Srigala yang hendak, menerkam mangsanya.
”Ayo, Rin . . main . . Letoy amat, kau ini . .
!” ajakku lagi.
Dia menatapku, tatapannya tak lagi sangar, ”Aku lemas, Laras. Aku sudah tak kuat lagi !”

”Makanya jangan cari gara-gara ! Lagak sok jadi jagoan. Eh, baru semenit saja sudah keok tak berdaya !” umpat serapahku.
Duuh, sebel benar aku. Kepalaku semakin berat saja rasanya. Aku benar benar jadi putus asa melihat batang kontol Rinto yang tak mampu tegang lagi.

”Ayo, lagi doong . . sekali saja. Asal masuk terus sudah, nanti biar aku yang goyang terus biar aku cepat keluar, sayang !” bujukku sampai sundul langit.
Namun laki laki sial itu benar benar sudah tak bergairah lagi untuk melayaniku.
”Besok saja, Laras. Kau akan aku layani sampai pagi, kalau kau mau . . !”
Rinto kembali menolak ajakanku, namun masih sempat sombong di depanku ! Hu, Hilda dan Emi boleh kau kibuli. Tetapi kalau sama aku, jangan coba-coba ! Dengan kemampuan apa sih, kau melayani aku sampai pagi?
Tapi aku tak mau kehilangan akal, dengan tak sabar lagi kuraih batang kemaluan nya yang lembek. lalu kuusap usap dengan penuh kasih sayang. Kuurut urut dari ujung sampai ke pangkalnya secara berulang-ulang, lalu kuciumi dan kukulum topi bajanya.
Hup . . nyaem . nyaem . nyaem . sssh nyaem . ufh  !  Aku  bertambah  bersemangat dan bernafsu. Batang kontol itu sedikit demi sedikit mulai bengkak keras dan ngaceng lagi seperti semula. Whoofhh . . !
”Ayo, tidak usah menunggu besok-besok, Rinto . . batang kemaluanmu kini sodah ngaceng lagi !” bujukku.

Benar benar brengsek . . walau kontol Rinto sudah ngaceng, tapi dia masih ogah- ogahan melayani ajakanku.
oOo

2
A K U segera naik ke atas tubuh Rinto yang sudah terlentang.
”Kalau begitu biar aku yang di atas, sayang . . !”
Tanpa malu malu lagi kududuki kemaluan nya yang tegak perkasa.
Akhhss . . Sleeseeep – Jleps – Sleeep !
Ough . . asyiik sekali rasanya.
Aku segera manik turunkan pantatku dengan bernafsu sekali. Kutekan pantatku kuat kuat, sehingga batang kemaluannya yang pan jang itu menyeruak lebih ke dalam lorong vaginaku yang selalu gatal.
Tak seberapa lama kemi melakukan pari setubuhan, tiba tiba Rinto menggeram hebat kedua tangannya mencengkeram kedua buah bongkahan pantatku.
”Laras, enak sekali . . Ouugh . . tobat ammpuuuun . . akkhhhhss . .akhu kelluuarr, lagi .
. akhhsss . . !”

Croot ! Croooot ! Crooooots !
Wah, celaka . .  Rinto  keluar lagi !  Hari ini aku benar-benar sial kembali lagi.  Baru kali  ini aku menghadapi laki-laki model pel  –  crot atau begitu ditempel langsung moncrot se- macam Rinto ini.
”Kau sungguh keterlaluan sekali, Rinto ! Benar-benar pemuda tak berguna . . lebih baik kontolmu dipotong buat makan kucing . . Masa baru semenit saja . . sudah bocor lagi begini !” umpatku kesal.
”Aku benar-benar tak tahan oleh permain anmu yang hebat, Laras . . memekmu . . benra- benar luar biasa nikmatnya . .!” pujinya kepadaku.
”Ah, biasa. Lelaki kalau sudah diberi kenik matan sok memuji ! ”Pokoknya, ayo kita ulangi lagi !” pintaku memaksanya.
”Aku nyerah, Laras ! Aku tak sanggup lagi, kontolku sudah tak bisa ngaceng !”
”Aduh, bagaimana ini, Rin . . kepalaku rasanya pusing minta ammpuun, kepalaku terasa berat sekali !” rintihku.
Lelaki yang lagaknya sok seram itu benar benar tak berkutik, batang kemaluannya dan semakin mengecil lagi, sedang nafsuku meng gelora hebat.

”Rin, tolongin aku sayang . . . padahal tadi sedang enak-enaknya, kau keluar duluan !”
Kemudian Rinto bangun dari tidurnya. Lalu mengenakan kain anduk, dan melangkah keluar . . . ” Tunggulah sebentar Laras . . . kuambilkan sesuatu untuku ?” katanya sambil jalan.

Dalam pikirku, apa lagi yang mau diambil nya. Sedang pisau cukurnya masih tergeletak di kasur. Wah, jangan-jangan laki-laki brengsek itu mau ngambil golok atau parang untuk mencin cangku.
Aku jadi khawatir pada Rinto yang ber wajah seram itu.
Tak seberapa lama dengan terburu-buru dia melangkah masuk menghampiriku.
Digenggamnya sebuah bbenda tumpul ter buat dari karet mirip pelutu kendali.
”Ayo . . bersiaplah . . !” katanya sambil menggenggam benda tumpul itu diacungkan didepanku.
”Siap apaan . . . lagi lagi kau menggertak ku . . . lagi lagi kau mau membunuhku . . aku seorang perempuan yang lemah Rinto . . tak perlu kau bunuh pakai senjata begitu . . cukup kau cekik atau kau tendang pakai kakimu saja

sudah aut . . . !” ujarku emosi karena nafsu birahiku semakin memuncak dan tak tersalurkan.
”Bunuh apaan sih . . . benda ini adalah kontol kontolan karat . . . . akan  kugunakan untuk menusuk lorong memekmu yang sudah gatal itu, Laras !” seru Rinto sambil mendorong tubuhku ke kasur sehingga aku jatuh telentang.
”Ya amplop, kukira kau ingin mencabut nyawaku, Rin ?”
Rupanya Rinto membawa kontol kontolan karet yang gede dan panjang. Oough ssshh.
Tentu saja aku segera mengangakan pahaku.
”Ayo, tusuk Rin, lobang memekku sudah gatal bukan kepalang !”
Rinto buru-buru menempelkan ujung ben da tumpul itu ke lobang memekku dan perlahan lahan membenamkan ke dalam.
Sreset – sreset – sleeep !”
”Akkkhhh . . . . . s s s h h h h . . . n i k m a a a a t, Rin . . . !”
Lelaki bertampang seram itu diam mem bisu, sambil matanya memandangi lobang memekku yang tengah dimasuki oleh benda cumpul dan bulat. Kontol kontolan karet itu terus

ditimbul tenggelamkan ke dalam memekku. Tak kusangka rasanya nikmat sekali.
”Terus sayang, sodok terus memekku masukkan yang dalam . . aah . . eeh . . ssshh, nikmat sekali rasanya !”
Benda itu tidak begitu keras dan tidak lembek, cukup untuk mengobrak-abrik seluruh isi memekku. Rasanya pun nikmat sekali, asyik untuk diresapi. Tidak jauh berbeda dengan keha ngatan kontol lelaki.
Rinto semakin cepat merojok-rojokkan kontol kontolan karet, rasanya pun semakin ber tambah nikmat. Tetapi kurasakan air maniku keluar.

”Akh . . ! Ufh . . ssshhh, Rin . . nikmat terus sayang . . tekan . . tekan . . congkel congkel kan ujungnya !” Bocorlah memekku yang  pertama kali. Namun semangatku masih menggebu gebu untuk mengulangi kenikmatan lagi.

Maka waktu Rinto bertanya, ”Sudah keluar Laras, sudah apa belum ?” Lalu kujawab saja dengan tidak jujur.
”Belum sayang, aku susah keluar air mani nya, yang penting tusuk tusukan yang lebih cepat dan dalam, Rinto !”

Aku terpaksa dusta, karena buat apa capai capai menginap di rumah Anis, kalau cuma keluar air maninya sekali saja !
Lelaki bertampang seram itu agaknya geram dan penasaran pada nonokku yang ku bilang belum keluar air maninya.
Ditusuk tusuknya lebih cepat dan lebih
dalam.
”Nih mampus lhu, biar mampus lhu Laras
!” Sumpah Rinto yang bermaksud menyakiti memekku.
Namun tak terpikir oleh Rinto kalau aku sesungguhnya sedang merasakan nikmat yang luar biasa. Akhhh, bocorlah memekku yang kedua kalinya.
Crrrottt – crrrottt – crrrottt.
”Aduh Riiiin, ongh enak sayang, nikmat sekali, terus sayang, terus hantamkan benda tumpul itu lebih kuat dan dalam !”
Air maniku sudah keluar banyak sekali namun semangatku masih menyala-nyala ingin mengulangi kemesraan kembali.
”Jangan tinggalkan aku sendiri Rinto, ayo kita main lagi sayang sampai pagi . . !” ajakku.
Rinto masih saja terpaku menatap keindahan memekku yang dihiasi jembut tebal.

”Ayo lagi !” ajakku lagi. ”Ah, gila kamu Laras !”
”Alla, pura-pura kamu Rinto ! kata Hilda dan Emy, kamu mainnya kuat sampai pagi !”
”Mereka bilang begitu padamu, sejak kapan mereka ketemu aku !” ujar Rinto membela diri.

”Katanya waktu dulu ketika mereka menginap di sini !” ujarku.
Rinto mendadak mukanya menjadi merah ”Bohong ! Mereka pada fitnah,awas kalau samgai mbak Anis tahu kubunuh semuanya nanti !” ancam Rinto di depanku.
Wah, kumat lagi dia rupanya lelaki seram itu juga ada yang ditakutinya.
Dalam keadaan lengah, kudorong tubuh Rinto hingga jatuh terlentang di kasur. Dan tanpa buang waktu lagi, segera kutindih kemaluannya yang mengacung ke atas.
Jleeeph ! Sressets ! Bleeseeekh !
Kuputar putar pantatku dengan lincahnya, sehingga bonggol batang kontolnya menyentuh dan menggesek gesek itilku yang sejak tadi mencuat keluar. Bahkan jembutnya yang lebat itupun ikut menggelitik bibir memekku. Ufh . . geli tapi nikmat.

”Ayo, angkat pantatmu tinggi-tinggi, sa yang . . ssssh . . eegh . .!”
Rinto menuruti perintahku, maka menye ruaklah batang kontolnya yang hangat itu lebih kedalam lagi.
Namun tak lama kemudian lorong memek ku berdenyut denyut  cepat  sekali. Dan akhir  nya menyemburlah cairan kenikmatan dari lorong vaginaku.
”Akhh . . Rin . . ough . . akhu kellluarr akh
! Creeets ! Crreeets ! Creeeets !”
Dengan berakhirnya tetesan air maniku yang keluar, aku segera pulang pagi pagi sekali tanpa sepengetahuan Anis, kakak Rinto.
Semenjak kejadian itu, tak pernah kudengar lagi khabar mengenai kebrutalan Rinto, mungkin dia benar benar telah jera.
Hidup terus menerus seperti aku ini memang tidak enak. Kesana kemari yang ada di otak hanya kontol lelaki. Walaupun sebenarnya setelah mendapatkan kenikmatan, aku selalu menyesali perbuatanku sendiri ini. Dan yang terlebih memusingkan lagi adalah memikirkan Fitri temanku. Dia cewek bandel seperti aku juga.
”Khabar gembira bagi kamu yang mau ikutan, Laras !” ujarnya konyol.

”Eh, sok serius sekali kau ini, Fitri ! Ada khabar berita apa sih !” tanyaku serius.
”Rumahku lagi kosong. Kedua orang tua ku sedang pulang kampung urusan warisan !”
”Sloompreeet ! Itu sih khabar gembira untuk kamu doangan, perek !” cemoohku.
”E . e . eeeh, tunggu dulu ! Bukan itu maksudku, nyong monyong !”
”Lalu maksudmu apa, Fitri ?”
”Kita bawa saja si Dino ke rumah, Ras !” bisiknya kepadaku.
”Tega benar kamu, Fitri. Dino kan masih sekolah. Jangan ganggu dia !”
”Ah, persetan ! Anak itu pernah mencium pipiku sekali, waktu aku buang air besar di W.C. Umum !” ujarnya serius.
”Tidak sengajabarangkali, Fitri ! Jangan mengada-ada kamu !” Sangkalku.
”Tidak sengaja apaan, Dino tidak hanya mencium pipiku, melainkan meremas indo-milkku
!”

”Hi . hi . hi salah siapa, tetek segede paya bangkok . . !” ejekku.

Fitri terus memaksaku agar rencananya terlaksana. ”Kita kerubuti berdua, Laras ! Biar kapok ?!”
Akh, itung-itung teman masuk keneraka. Malam harinya aku datang ke rumah Fitri.
Ternyata Dino berhasil dibujuknya. Namun nampaknya masih ngobrol biasa.
”Berdua dengan siapa kau, Fit ! Kok asyik betul ?” sapaku pura pura.
”Berdua Dino, adik keponakanku ?” kata Fitri mulai tengal.
Lagaknya kaya betulan punya adik kepo nakan. Setelah kupandangi dengan seksama ternyata wajah Dino sangat tampan. Keci-kecil berkumis, banyak bulunya, aku jadi bergairah untuk mengerubutinya.
Tak seberapa lama Dino ingin pulang karena memang hari sudah malam.
Tetapi mana bisa lolos dari cengkeraman kami. Fitri buru buru menyergapnya.
”Kenapa buru-buru pulang, Dino !” tanya Fitri sambil menarik tangan Dino.
”Malu, mbak . . ada mbak Laras ?” bisik Dino pada Fitri.
”Tidak apa-apa, Dino. Mbak Laras baik orangnya, dia biasa main kemari ?” bujuk Fitri,

dan akhirnya Dino kembali duduk, sedang Fitri berbisik kepadaku :
”Kita peras dulu santannya,  Laras ? Ba ru kita lepaskan buronan kami ini ?”
”Buronan, Fit ?”
Fitri mengangguk, ”Apalagi namanya ?”
Tentu saja aku mengangguk setuju apa yang dikata Fitri.
”Ya . . ya . . shiiplah ?” ujarku semangat.
oOo

3
D I N O terpaku melihat aku mengunci pintu, sedang Fitri duduk berpelukan menemani nya di sofa.
”Eeeeh . . kok di kunci !” tanya Dino kepadaku.
”Biar . . biar aman Dino !” Namun dalam hatiku biar tidak bisa keluar kau anak manis.
Tiba tiba Fitri menyerang duluan, Dino ditubruknya dengan  sangat  bernafsu  dan kasar.

Aku segera mendekati mereka. Dino dalam keadaan tak berdaya menahan serangan

Fitri yang buas dan kesetanan. Lelaki muda belia seumur tujuh belas itu bagai di rajang oleh Fitri yang pengalaman Sexnya setarap denganku.
”Sabar . . mbak . . . ah . . aduh aku . . aku kok ditelanjangi begini sih !” ujar Dino serak tapi pasrah.
Rupanya lelaki muda yang tampan itu tahu maksud keinginan Fitri.
”Tenang Dino . . tenang sajalah kamu menurut saja, ya sayang, ingin kutelanjangi tubuhmu. Pokoknya nikmattt !” desis Fitri tanpa malu malu.
”Nanti . . dilihat mbak Laras. Malu,  ah  !”  Kembali Dino bersunggut dan mencoba melawan, namun Fitri lebih cepat  menarik celana kolor Dino, tapi cukup kerepotan kelihatan nya.

Maka aku berjalan lebih dekat mereka.
Tiba-tiba Fitri yang tengah kerepotan membuka celana kolor Dino itu berteriak minta tolong kepadaku.
”Laras, ayo bantu aku ini goblok . . malah bengong kaya patung . . cepat tarik celana Dino yang tinggal sedikit lagi terlepas!” bentak Fitri kepadaku.
”O . . ya . . !” kutarik celana kolor Dino ke bawah lututnya hingga terlepas.

Fitri tidak tahu kalau aku sesungguhnya tidak sedang bengong, melainkan kepingin, karena dengan sikap Fitri yang serba main paksa begitu memandang nafsu birahiku. Sifat lamaku jadi kambuh. Lagi-lagi berebut lelaki dengan Fitri yang brengsek itu.
Aku tak mau kalah duluan untuk me ngerjai Dino yang nampak segar bugar meng gairahkan sekali itu. Hatiku masih di liputi balas dendam tempo hari pada Fitri yang main serobot lelaki teman kencanku di rumahnya.
Kudorong tubuh Fitri kesamping hingga terlepas dari pergumulan.
”Aks . . sialan, lhu Ras . . main serobot sa ja. Bagianmu belakangan monyet !’ Sumpahnya kepadaku.
Mana aku mau peduli. Kini gantian aku yang berada di atas tubuh Dino. Sedang Dino tak bisa apa-apa, hanya tatapan matanya di liputi ke heranan melihat sikapku dan sikap Fitri.
Namun tidak kurang semangatku untuk menggumuli tubuhnya.
Fitri gantian mencoba untuk menarik tubuhku. Namun aku lebih kuat mencengkram tubuh Dino.
Terjadilah tarik menarik antara aku dan
Fitri.

”Aku duluan, Laras . . . !”
”Jangan Fitri ! Aku duluan saja yang naik ke atas tubuh Dino !” Tolakku.
Dino hanya diam saja sambil memperhati kan kami yang sedang berebut tempat.
”Sebentar saja, laras, asal masuk bebe rapa putaran pasti aku mmencapai puncak kenikmatanku !” rengek Fitri merayuku.
”Pokoknya, tidak boleh, aku tidak mau be kas kamu, Fit !”
Kulihat batang kemaluan Dino semakin tegak ke atas, menantang mangsanya. Fitri menarikku lagi.
Gantian aku yang tersungkur dilantai, lalu kubalas lagi dan dibalas lagi.
Kami tak ada yang mau mengalah. Karena kami sama-sama merebutkan obat awet muda.

Kalau begini caranya akan repot, mengha biskan waktu saja, timbul dalam fikiranku untuk memecahkan masalah ini kepada Fitri yang keras kepala.
”Kalau tidak mau gantian, kita kerjain ba reng saja, Fit ! aku yang bagian bawah dan kau yang bagian atas !” ujarku.
”Baiklah !” jawab Fitri.

Kami sama-sama menyerang tubuh Dino. Fitri jongkok dengan menyodorkan memeknya ke mulut Dino. Sedang aku asyik mengulum batang kemaluan Dino yang bengkak dan keras ujung nya mirip jamur.
Kusedot sedot, kukulum kulum sambil sebelah tanganku meremas remas pantat Fitri yang montok, mengembang mengempis kurang ajar membelakangiku.
Fitri memang juga keranjingan. Belahan memeknya yang gede bulat berlendir itu ditempelkan kemulut dan hidung Dino. Sehingga pernapasan Dino tersumbat dan tersengal sengal oleh daging hangat yang berbulu lebat itu ”Ayo issssaap, anak manniiss. Sedooot . . Sedoott daging yang mencuat merah didepanmu itu, sayang . . ” rintih Fitri smbil mengusap-usap rambut Dino ”Nah begitu, itu namanya itttiill, sayangg . . ayooh isaaap terus, Dinno . . ouuggh
. . nikkkmmmaatnya !” Fitri hanyut dalam kenikmatannya.
Dalam posisi seperti itu sangat mengun tungkan bagiku.
Kusedot-sedot dengan lembut sekali, se hingga menggelepar geleparlah tubuh Dino. Kemudian kedua kakinya mengejang hebat, Dino merintih rintih menahan nikmat yang luar biasa oleh isapan mulutku yang hangat.

”Adddduuh, nikmat sekaliii !” rintih Dino sambil menjilati lobang memek Fitri.
Maka memek Fitri yang menanggung amukan kebuasan mulut dan lidah Dino sebagai pelampiasan gejolak nafsunya akibat serangan mulutku.
”Diiiinnooo. Nafsu amat sih kamu ?” seru Fitri sambil menggelinjang gelinjangkan tubuhnya kesana kemari.
”Terrrruss sayangku, isap terus memekku yang gurih ini . . ?” kembali Fitri mengomentari Dino penuh semangat.
Namun Dino gerakan mulut dan lidahnya tak selincah tadi.
Tiba tiba Dino menjerit dan kedua mata nya melotot.
”Akkkkhhhh, nnniiikmmmat sekaliii, aku tiddddaakk taahhhann, mbbaak, ouugh asyik nyyyaaa ! !” bobollah pertahanan Dino.
Air maninya yang putih dan kental melun cur cepat sekali. Tentu saja kusambut dengan ngangaan mulutku yang lebar.
Crrrrroooottt . . crrrroot . . crorroott ! Auuffh . . gurihnya . . nyam nyam nyam, lezat sekali air mani Dino ini Kutelan semuanya sampai kering. Fitri sengaja tak kusisai. Ooouch

asyiknya seketika tubuhku menjadi segar akibat meneguk air mani Dino.
Ketika cairan  jezat  itu  habis  Dino  tu buh nya menjadi lemas sedang keadaan Fitri se dang memuncak  birahinya.  Maka  ia  jadi ka lang kabut sendirian ”Ayo, Diinoo ? Kenapa berhenti meng hisapmu ?” seru Fitri agak marah, dan kebingung an.
”Aku lemasss, mbak ?” jawab Dino. ”Kenapa tiba-tiba lemas, Din  ?”  ujar  Fitri
sambil menengok ke belakang. Ia melihat mulut
ku yang asyik menikmati sisa sisa air mani Dino yang tertumpah . . . ” Pantas kau lemas, Din. Pejumu sudah keluar, ya ?!”
Senjata makan tuan, kini aku dan Fitri sama sama menahan gejolak nafsu birahi yang belum tersalurkan.
Akhirnya tanpa memikir panjang lagi ku serang tubuh Fitri yang padat dan sexi itu.
Kutarik tubuhnya ke lantai, kemudian de ngan sangat bernafsu kuremas-remas susunya yang gede bulat seperti pepaya bangkok. Oug indah sekali, padat dan berisi, aku bernafsu untuk mengisapnya.
”Akhsss, Larrraass . . ough nikmatnya.” Fitri terus mengerang menahan nikmat.
Buah dadanya semakin mengeras  karena nafsu.

Sejak tadi Dino belum sempat menyentuhnya. Kini mulai kuisap isap pentil susunya dan kuremas remas dengan gemas.
”Terrruus. Larrras . . ough nikmat sekali rasanya . .”
Rupanya Fitri tak mau tinggal diam, kedua tangannya ikut menggerayangi buah dadaku yang tak kalah montoknya dengan punyanya. Fitri juga sangat bernafsu meremas remas bulatan susuku, kemudian diselingi dengan pelintiran pelintiran petil susuku yang runcing dan berwarna merah jambu.
Asyik sekali rasanya !
”Ssssss, Fiiit, ouh nikmatnyaa ?!”
Kami berdua sama sama saling meremas payudara. Dan setelah aku merasa puas, pandanganku beralih pada perut Fitri bagian bawah. Gumpalan daging yang menggunduk di selangkangannya yang sudah basah oleh lendir itu segera kuusap-usap dengan mesra. Jembutnya yang tebal subur itu kugerai-geraikan dengan lembut.
Akhh . . ssssh . . oough . . betapa indah nya memek Fitri ini . . ! Tanpa membuang waktu lagi, segera kutundukkan kepalaku agar lebih dekat pada memeknya, lalu kutempelkan bibirku pada bibir kemaluannya yang basah.

”Laras . . ssssh . . oogh . . akhh . . !” rintih Fitri mulai merasakan kenikmatan.
Hidung dan lidahku yang panjang mulai mengendus-endus dan menjilati lorong memek nya yang  penuh  lendir.  Seketika  itu  juga  bi  bir memeknya mengembang – menguncup de ngan indahnya. Namun begitu  mulutku  juga tidak ketinggalan untuk mengecup sekerat da ging merah yang mencuat di atas lobang me meknya.
”Ough . . itttiillkuu . . itilku terrassaaa nikmat sekali kau sedot sedot begitu !”
Fitri mulai meracau tak karuan. Sedang nafsuku semakin menggelora mengerjainya, li dah kutusuk-tusukkan lebih kedalam lagi ke dalam lobang memeknya yang berbau harum dan terasa gurih.
”Ah . . sssh . . Larasssh . . ampuuuun, nikmat sekali rasanya . . kau hebat, sayang, eeegh akhhhss . . enaakkk !”
Rupanya pertahanan Fitri kuat sekali, su dah hampir setengah jam kujilati memeknya masih belum mencapai puncaknya juga !
Akhirnya untuk melampiaskan rasa pe nasaranku, kutusuk tusuk lobang memeknya de ngan jari jariku.

”Nih, rasakan anak bandel ! Jleep . sre seeet . jleeeeep . sreeets !”
”Laarraaaas . . tooobbaaaat . . aakkuuu tidak kuaattt, akhu tidak tahan dengan per mainan jari telunjukmu, sayaang. Ogh . . aku keelllluuaaarr !”
Fitri berteriak sejadi jadinya sambil men jepit jari telunjukku dengan memeknya kuat sekali. Dan seketika itu juga menyemburlah air maninya yang bening dan kental dari lobang memeknya.
”Akkhhs ?!”
Croooot ! Croooott ! croooots !
Jari telunjukku segera kucabut, kemudi  an sambil nungging kureguk cairan kental itu dengan lahapnya.
Namun ketika aku sedang asyik asyiknya menikmati air mani Fitri, tiba tiba Dino me nubrukku dari belakang, dan kontolnya yang ngaceng itu langsung di tusuk tusukan ke  lo bang memekku dari belakang dengan nafsu. Tentu saja aku senang sekali, karena dapat mengobati liang memekku yang sangat gatal.
Jleep ! Sleep ! Jleesep ! Sreeseeet ! ”Dino, kau pintar amat, sih ! Tanpa aku
suruh, kau sudah tahu kalau memek mbak La ras sedang kegatalan batang kontolmu !”

Dan tanpa banyak membuang tenaga bo bollah benteng pertahananku, karena memang sudah sejak tadi nafsuku sudah membara.
”Niikmmaaaat . . nikmaatt sekali, Dino teruuuss sayaaang . . hantaam yang kuaaaat biar air maniku keluar lebih banyak !”
Creeets ! Creeets ! Crreeeets !
Dino bagaikan mendapatkan kekuatan dari dewa. Semangatnya berkobar kobar me nyetubuhiku dari belakang. Mungkin dia juga senang dengan posisi nungging yang sedang kami lakukan saat ini, karena tak seberapa lama kemudian air mani Dinopun menyembur.
”Akh . . ssssh . . nikmat sekali, mbak. Memekmu enak sekali . . . sssh . . eghh . . wuo . . oough aku keluarrr !” Dino memujiku.
”Terus, sayangku, keluarkan yang banyak aku senang sekali basah oleh air manimu ?”
Hari sudah larut malam aku pulang sendi ri, ditengah jalan aku dihadang oleh lelaki, siapa lagi kalau bukan Boy yang bernafsu akan menga winiku. ”Yuk, Ras ! Nonton film layar tancap ?” ajak Boy.
”Yuk, Boy ?” aku tahu maksudnya paling- paling ia ingin memamerkan kecantikanku.
oOo

4
BOY yang semula kukira alim ternyata sangat buas. Dalam keremangan malam diba wah pohon kecapi, tangannya yang tak mau di am itu mulai melorotkan celana dalam, kemudian menaikkan rok bikiniku ke atas.
Lalu dengan ilmu apa lagi aku tidak per hatikan tau tau lobang memekku yang teramat sempit ini sudah kemasukan kontolnya yang hangat.
”Auih s s s Edddyy,  eeeennak  !”  bisik  ku lirih karena kanan kiriku padat  oleh  pe nonton yang lagi asyik melihat film komedi.
Namun keadaan seperti itu tak mengu rangi semangat Edy untuk memaju mundurkan pantatnya dari arah belakang.
Memang asyik sekali, menonton film, sambil menikmati kehangatan kontol Edy yang menyusup ke lobang memekku.
Namun aku penasaran ! Bagai dendam tak terbalas, kubiar Edy sendiri yang tengah kesetanan menggerayangiku dari belakang.
Walau keadaan yang bagaimanapun aku tetap berdiri tegak membelakangi Edy.

Hanya sesekali aku menjingkitkan pan tatku kalau kurasakan kemaluan Edy yang gede panjang itu merojok terlampau kedalam.
”Eddyyy, aahh sssh !” kerap kali aku merintih.
Persetubuhan seperti yang kami lakukan ini memang asyik kalau dilakukan sambil me nonton layar tancap, orang lain tak menyangka kalau kami sedang asyik bersetubuh. Seolah olah seperti orang yang sedang berpacaran saja.
Karena disamping nikmat yang tiada tara, kami bisa sama sama menikmati film komedi.
Yang sangat lucu, tanpa banyak menge luarkan tenaga aku bisa mudah mencapai pun cak kenikmatan.
Air maniku keluar banyak sekali, tentu saja rasa kenikmatannya berkepanjangan.
Benar benar aku merasakan nikmatnya sorga dunia yang tiada tara.
Edy memang sangat luar biasa orangnya ia sangat jempolan untuk mentrapkan keadaan dan posisi.
Dalam situasi yang menyulitkan begini masih bisa kami lalui dengan kenikmatan.
Tidaklah heran kalau teman temannya pa da menjuluki SI SETAN MEMEK LAYAR TANCAP !

Jam empat pagi tontonan sudah bubar. Sejak tadi aku geram pada Edy ! Awas nanti kalau melewati rumah kosong di dekat sawah itu
! Ancamku . . . . Lumayan, disamping tempatnya sepi, sana sini ditumbuhi pepohonan yang rimbun.
Aku sengaja memperlambat jalan, kupe luk tubuh Edy mesra sekali.
Setelah kurasakan sangat sepi kutarik tubuh Edy memasuki rumah kosong yang tidak dikunci.
Dilantai telah tersedia tikar, mungkin be kas orang lain bersetubuh !
Betul juga, di sana sini berceceran air mani yang masih hangat, seperti baru saja ter jadi pertempuran sengit di sini.
Rupanya Edy si buaya darat itu sudah tahu maksudku. Dia buru buru menanggalkan pakaiannya hingga bugil. Demikian pula dengan aku, tak sehelai benangpun menempel di tubuhku.
”Akh . . gila !” Aku benar-benar terperanjat melihat benda antik yang bergelayutan di antara kedua pangkal pahanya.
Ya, ampuuuun ! Pantas gedenya seperti gada Menak Jingga ! Dan tentu saja aku segera menyambutnya dengan gembira.

Ufhh . . ssssh . . nyaem – nyaem – nya- emm . . duuh nikmatnya rasa daging hangat milik Edy ini. Batang kemaluannya yang gede panjang itu kukulum dengan mesra.
Memang paling lezat sarapan pagi dengan menguyah-nguyah daging alot.
Benda hitam itu kukeluar masukkan ke dalam mulutku.
Kusedot-sedot ujungnya yang berbentuk topi baja . . . Mekar dan mengkilap sangat merangsang sekali.
Dari ujung lobangnya mengalir cairan lendir yang bening. Rasanya gurih, nikmat sekali untuk diresapi.
Benda lunak dan keras itu terus kusedot- sedot, dan akhirnya keluarlah cairan yang lebih kental banyak sekali, mirip santan, rasanya sangat gurih dan lezat !
Aku memang sangat doyan cairan seperti
ini.
”Aufh sssssh, Larrrrras, nikmat sekali,
sayang !!” Edy terpekik menahan nikmat, air maninya menyembur banyak sekali.
Aku jadi ketagihan. Kembali kuurut urut batang kontolnya yang mulai tegang lagi. Se karang mampus lhu . . kubikin habis pejuhmu hari ini ! Demikian ancamku dalam hati.

Setelah batang kontol Edy benar benar telah ngaceng , segera kukeluar masukkan ke dalam mulutku dengan penuh nafsu.
”Ufh . . gurihnya kontolmu, sayang . . egh
. . ufh . . sssh . . !” aku benar benar bernafsu melayani Edy dengan mulutku. Karena memang sudah lama aku tak mengulum kontol.
Di rumah kosong itu Edy aku bikin tidak berdaya, karena aku melayaninya dengan ber sungguh sungguh. Dalam hatiku, rasanya pemba lasanku yang lebih kejam ini !
Begitu, terus berulang ulang, sampai se tetes lendirpun tak  mampu keluar  dari ujung  topi bajanya.
”Toobuaaaat, Laras ! Sssu – sudddaahh jangan diisap lagi kontolku . . akhhh !”
”Kalau begitu kau tak pantas jadi sua miku, Edy. Kau tak bisa memenuhi syarat !”
”Ya – ya, tidak apa apa. Yang penting lepaskan batang konnolku, Laras. Aku benar- benar sudah tidak kuat !” rintihnya
Akupun segera melepaskan kulumanku Ploooopohhhhh !

Saturday, August 11, 2018

Cerita Dewasa Terbaru Memuaskan Ibu Kostku Yang Sangat Seksi



LASKARQQ - Kali ini admin LASKARINDO.com akan memberikan sebuah Cerita Sex Terbaru Terbaru Memuaskan Ibu Kostku Yang Sangat Seksi. Jangan kemana-mana sebelum anda selesesai membaca cerita ini biar bisa melakukan coli.

Pagi itu aku tengah sibuk membenahi kamarku. Sebuah kamar kontrakan yang baru kutempati sejak sebulan lalu. Maklum, kamar berukuran 3×4 meter itu berdinding papan dan terletak di bagian belakang rumah bersebelahan dengan kamar mandi. BANDARQ 

Apalagi papannya sudah banyak yang renggang dan berlubang hingga bila malam tiba, angin menerobos masuk dan menebarkan hawa dingin menusuk tulang. Hanya bagiku, mendapatkan kamar kost dengan kondisi seperti itu pun merupakan anugerah tersendiri. Sebelumnya aku nyaris patah semangat ketika mendapati harga sewaan kamar yang rata-rata sangat mahal dan tak terjangkau di kota tempatku kuliah di sebuah PTN.

Hingga ketika Bu Halimah pemilik warung makan sederhana menawariku untuk tinggal di tempatnya dengan harga sewa yang murah aku langsung menyetujuinya. Oh ya, Bu Halimah, ibu kostku itu adalah seorang janda berusia sekitar 45 tahun. Sejak kematian suaminya tujuh tahun lalu, ia tinggal bersama putri tunggalnya Nastiti. Ia masih sekolah, kelas dua di sebuah SMTA di kota itu.

Mereka hidup dari usaha warung makan sederhana yang dikelola Bu Halimah dibantu Yu Narsih, seorang wanita tetangganya. Yu Narsih hanya membantu di rumah itu sejak pagi hingga petang setelah warung makan ditutup. Pembawaan keseharian Bu Halimah tampak sangat santun. Ia selalu mengenakan busana terusan panjang terutama bila tampil di luar rumah atau sedang melayani pembeli di warungnya.

Hingga kendati berstatus janda dengan wajah lumayan cantik, tak ada laki-laki yang berani iseng atau menggoda. “Ada memang laki-laki yang meminta ibu untuk menjadi istrinya. Tetapi ibu hanya ingin membesarkan Nastiti sampai ia berumah tangga. Apalagi sangat sulit mencari pengganti laki-laki seperti ayah Nastiti almarhum,” katanya suatu ketika aku berkesempatan berbincang dengannya di suatu kesempatan.

Di tengah kesibukanku memperbaiki dinding kamar, tiba-tiba kudengar suara pintu kamar mandi dibuka. Lalu tak lama berselang kudengar suara pancaran air yang menyemprot kencang dari kamar mandi. Padahal di sana tidak ada kran air yang memungkinkan menimbulkan bunyi serupa. Maka seiring dengan rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba, aku segera mencari celah lubang di dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk bisa mengintipnya. BANDAR POKER

Ah, ternyata yang ada di kamar mandi adalah Bu Halimah. Wanita itu tengah kencing sambil berjongkok. Mungkin ia sangat kebelet kencing hingga begitu berjongkok semprotan air yang keluar dari kemaluannya menimbulkan suara berdesir yang cukup kencang sampai ke telingaku. Aku jadi tersenyum simpul melihat kenyataan itu. Tadinya aku tidak berniat melanjutkan untuk mengintip. Namun ketika sempat kulihat pantat besar Bu Halimah yang membulat, naluriku sebagai laki-laki dewasa jadi terpikat.

Posisi jongkok Bu Halimah memang membelakangiku. Namun karena ia menarik tinggi-tinggi daster yang dikenakannya, aku dapat melihat pantat dan pinggulnya. Ah, wanita berkulit kuning itu ternyata belum banyak kehilangan daya pikatnya sebagai wanita. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk terus mengintip, melihat adegan lanjutan yang dilakukan ibu kostku di kamar mandi yang ternyata membuat tubuhku panas dingin dibuatnya.

Betapa tidak, setelah selesai kencing, Bu Halimah langsung mencopot dasternya untuk digantungkannya pada sebuah tempat gantungan yang tersedia. Tampak ia telanjang bulat karena dibalik dasternya ia tidak mengenakan celana dalam maupun kutangnya. Jadilah aku bisa menikmati seluruh keindahan lekuk-liku tubuhnya. Bongkahan pantatnya tampak sangat besar kendati bentuknya telah agak menggantung.

Sepasang buah dadanya yang juga sudah agak menggantung, ukurannya juga tergolong besar dengan dihiasi sepasang pentilnya yang mencuat dan berwarna kecoklatan. Namun yang membuatku kian panas dingin adalah adegan lanjutan yang dilakukannya setelah ia mulai mengguyur air dan menyabuni tubuhnya. Sebab setelah hampir sekujur tubuhnya dibaluri busa sabun mandi, ia cukup lama memainkan kedua tangannya di kedua susu-susunya. Meremas-remas dan sesekali memilin puting-putingnya.

Sepertinya ia tengah berusaha membangkitkan dan memuasi birahinya oleh dirinya sendiri. Lalu, dengan satu tangan yang masih menggerayang dan meremas di buah dadanya, satu tangannya yang lain menelusur ke selangkangannya dan berhenti di kemaluannya yang membukit. Kemaluan yang hanya sedikit ditumbuhi bulu rambut itu, berkali-kali diusap-usapnya dan akhirnya salah satu jarinya menerobos ke celahnya. Ah, ia juga mengeluar-masukkan jarinya ke liang kenikmatannya. DOMINO99 

Bahkan seperti tidak puas dengan satu jari tengah tangannya, jari telunjuknya pun ikut dimasukannya. Hingga akhirnya kedua jarinya yang digunakan untuk mencolok-colok vaginanya. Aku yakin Bu Halimah melakukan semua itu sambil membayangkan bahwa yang mencolok-colok liang kenikmatannya adalah penis seorang laki-laki. Terbukti ia melakukan sambil merem-melek dan mendesah. Membuktikan bahwa ia mendapatkan kenikmatan atas yang tengah dilakukannya.

Disodori pertunjukkan panas yang diperagakan ibu kostku, aku kian tak tahan. Kukeluarkan kemaluanku yang telah ikut mengeras dari celana setelah membuka risleting. Kuremas-remas sendiri penisku sambil membayangkan menyetubuhinya yang tengah bermasturbrasi. Akhirnya, ketika tubuhnya terlihat mengejang, karena menahan birahi yang tak terbendung dan seiring dengan datangnya puncak kenikmatan yang didambakan, aku pun kian kencang meremas dan mengocok kemaluanku sambil terus memelototi tingkah polahnya.

Dan tubuhku ikut mengejang dan melemas ketika dari ujung penisku memuntahkan mani yang menyembur cukup banyak. Dia tampak kaget dan mencoba mencari sesuatu di dinding kamar mandi yang berbatasan dengan kamarku. Mungkin ia sempat mendengar erangan lirih suaraku yang tak sadar sempat kukeluarkan saat mendapatkan orgasme. Namun karena aku segera menjauh dari dinding, ia tak sempat memergokiku. Tetapi,… ah.. entahlah. Hanya sejak saat itu aku sering mencari kesempatan untuk mengintipnya saat ia mandi.

Bahkan juga mengintip ke kamarnya saat ia tidur. Kamar Dia memang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, selama ini wanita itu mendapatkannya dari bermasturbrasi. Hingga aku sering memergoki ia melakukannya di kamarnya. Dan seperti Dia, setiap aku mendapatkan kesempatan untuk melihat ketelanjangannya, selalu aku melanjutkan dengan mengocok sendiri kemaluanku. Tentu saja sambil membayangkan menyetubuhi ibu kostku itu.

Sampai akhirnya, mengintip ibu kostku merupakan acara rutin di setiap kesempatan seiring dengan gairah birahiku yang kian menggelegak. Sampai suatu malam, setelah sekitar enam bulan tinggal di rumahnya, aku bermaksud keluar kamar untuk menonton televisi di ruang tamu. Maklum sejak sore aku terus berkutat dengan diktat dan buku-buku untuk tugas pembuatan paper salah satu mata kuliah. Namun yang kutemukan di ruang tamu membuatku sangat terpana. POKER

Televisi 17 inchi yang ada memang masih menyala dan tengah menyiarkan satu acara infotainment dan disetel dengan volume cukup keras. Namun satu-satunya penonton yang ada, yakni Dia, tampak tertidur pulas. Ia tidur dengan menyelonjorkan kaki di sofa, sementara daster yang dikenakannya tersingkap cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya nampak menyembul terbuka. Biasanya aku akan membangunkan dan megingatkannya untuk tidur di kamarnya bila memergoki ibu kostku tertidur di ruang tamu.

Tetapi itu tidak kulakukan, sayang kalau pemandangan yang menggairahkan sampai terlewatkan. Ketika aku mendekat, tubuh wanita itu menggeliat dan posisi kakinya kian terbuka hingga mengundangku untuk melihatnya lebih mendekat. Berjongkok di antara kedua kakinya. Kini bukan hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati. Aku juga dapat melihat organ miliknya yang paling rahasia karena ia tidak mengenakan celana dalam. Bibir luar kemaluannya terlihat coklat kehitaman dan nampak berkerut.

Pertanda kemaluannya sering diterobos alat kejantanan pria. Sementara di celahnya, di bagian atas, tampak kelentitnya yang sebesar biji jagung terlihat mencuat. Melihat ketelanjangan tubuh ibu kostku sebenarnya telah cukup sering kulakukan saat mengintip. Namun melihatnya dari jarak yang cukup dekat baru kali itu kulakukan. Degup jantungku jadi terpacu, sementara penisku langsung menegang. Aku nyaris mengulurkan tanganku untuk mengusap vaginanya untuk merasakan lembutnya bulu-bulu halus yang tumbuh di sana atau merasakan hangatnya celah lubang kenikmatan itu.

Tetapi takut resiko yang harus kutanggung bila ia terbangun dan tidak menyukai ulahku, aku urungkan niatku tersebut. Dan tak tahan terpanggang oleh gairah yang memuncak, kuputuskan untuk kembali ke kamar. Untuk beronani, meredakan ketegangan yang meninggi. Di dalam kamar, kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan. Lalu tiduran telanjang diatas ranjang setelah sebelumnya menarik kain selimut untuk menutupi tubuh. Seperti itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan keindahan tubuh dan menyetubuhi ibu kostku.

Hanya, baru saja aku mulai mengelus burungku yang tegak berdiri tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang tak sempat terkunci dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam. “Hayo, lagi ngocok yah,” suara Dia mengagetkanku. Ternyata yang membuka pintu dan masuk kekamarku adalah ibu kostku. “Ti,… tidak,” jawabku dan secara reflek segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku. “Jangan bohong Tris. Ibu tahu kok kamu sering mengintip ibu saat mandi atau dikamar.

Juga tadi kamu melihati milik ibu saat tidur di sofa kan?” katanya lirih seperti berbisik. Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi malu dan menjadi tegang. Takut kepada kemarahan Dia atas semua ulah yang tidak pantas kulakukan. Penisku yang tadi tegak menantang kini mengkerut, seiring dengan kehadiran wanita itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang telah menelanjangiku. Aku membungkam tak dapat bisa bicara. “Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Tris.

Malah, eee.. ibu bangga ada anak muda yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau, sekarang kamu boleh melihat semuanya milik ibu dari dekat dan kamu boleh melakukan apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia serapat-rapatnya,” ujarnya. Aku masih belum tahu arah pembicaraan ibu kostku hingga hanya diam membisu. Tetapi, Dia telah melepas daster yang dikenakannya.

Dan dengan telanjang bulat, setelah sebelumnya mengunci pintu kamar, ia menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Duduk di tepi ranjang di sebelahku. Tak urung gairahku kembali terpacu kendati hanya menatapi ketelanjangan tubuh wanita yang lebih pantas menjadi ibuku itu. “Ayo Tris, jangan cuma melihati begitu. Tadi kamu sebenarnya ingin memegang punya aku kan? Ayo lakukan semua yang ingin dilakukan padaku,” suaranya terdengar berat ketika mengucapkan itu. Mungkin ia telah bernafsu dan ingin disentuh.

Melihat aku tidak bereaksi, aku kostku akhirnya mengambil insiatif. Tangannya menjulur, menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Batang penisku yang tegak mengacung diraihnya dan diremasnya dengan gemas. Selanjutnya mengelus-elusnya perlahan hingga aku menjadi kelabakan oleh sentuhan-sentuhan lembut tangannya di selangkanganku. Dan sambil melakukan itu Dia mulai membaringkan tubuhnya di sisiku dalam posisi berhadapan denganku. BANDAR66

Maka buah dadanya yang berukuran besar dan seperti buah pepaya menggantung berada tepat di dekat wajahku. Aku tetap tidak bereaksi kendati payudaranya seperti sengaja disorongkan ke wajahku. Namun ketika ia mulai mengocok penisku dan menimbulkan kenikmatan tak terkira, keberanianku mulai terbangkitkan. Payudaranya mulai kujadikan sasaran sentuhan dan remasan tanganku. Buah dadanya sudah tidak kencang memang, tetapi karena ukurannya yang tergolong besar masih membuatku bernafsu untuk meremas-remasnya.

Puas meremas-remas, aku mulai menjilati pentilnya secara bergantian dan dilanjutkan dengan mengulumnya dengan mulutku. Rupanya tindakanku itu membuat gairah Dia menjadi naik. Ia mulai mengerang dan kian mengaktifkan sentuhan-sentuhannya di di alat kelaminku. “Ya Tris, begitu. Ah,.. ah enak. Uh,.. uh..terus terus sedot saja. Ya,.. ya. sshh…ssh.. akhhh”. Dengan mulut masih mengenyoti susu Dia secara bergantian kiri dan kanan, tanganku mulai menyelusur ke bawah.

Ke perutnya, lalu turun ke pusarnya dan akhirnya kutemukan busungan membukit di selangkangannya. Kemaluan yang hanya sedikit di tumbuhi rambut itu terasa hangat ketika aku mulai mengusapnya. Rupanya itu merupakan wilayah yang sangat peka bagi seorang wanita. Maka ketika aku mulai mengusap dan meremas-remas gemas, Dia mulai menggelinjang. Kakinya dibukanya lebar-lebar memberi keleluasaan padaku untuk melakukan segala yang yang kuiinginkan.

Terlebih ketika jari telunjukku mulai menerobos ke celahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma hangat. Tetapi telah basah oleh cairan yang aku yakin bukan oleh air kencingnya. Aku jadi makin bernafsu untuk mencolok-coloknya. Tidak hanya satu jari yang masuk tetapi jari tengahkupun ikut bicara. Ikut menerobos masuk ke lubang kenikmatan aku kostku. Mengocok dan terus mengocoknya hingga lubang vaginanya kian becek akibat banyaknya cairan yang keluar.

Ia juga menggelinjang-gelinjang sambil terus mendesah. “Ah,.. ah.. ah aku tidak kuat lagi Tris. Ayo sekarang kamu naik ke tubuh aku,” bisiknya akhirnya. Rupanya ia sudah tidak tahan akibat kemaluannya terus diterobos oleh dua jariku. Maka tubuhku ditarik dan menindihnya. Dasar belum punya pengalaman sedikitpun dengan wanita. Kendati telah menindihnya, penisku tak kunjung dapat menerobos lubang kenikmatan aku kostku. Untung Dia cukup telaten.

Dibimbingnya penisku dan diarahkannya tepat di lubang vaginanya. “Sudah, dorong masuk tetapi pelan-pelan. Soalnya aku sudah lama melakukan seperti ini,” bisiknya di telingaku. Bleessss! Sekali sentak amblas penisku masuk ke lubang kenikmatan aku kostku. Aku memang tidak mengindahkan permintaannya yang memintaku untuk memasukannya perlahan. Mungkin karena tidak berpengalaman dan sudah terlanjur naik ke ubun-ubun gairah yang kurasakan.

Hingga ia sempat vaginaik saat penisku menancap di lubang vaginanya. “Auuu, ..ah.ah.. pe..pelan-pelan Tris, shhh….ssh ..ah..ah,” “Ma,… ma.. maaf bu,” “Iya,.iya. Be,.. besar sekali punya kamu ya Tris,” “Punyamu juga besar dan enak,” kataku sambil terus meremasi kedua payudaranya. Namun baru beberapa saat aku mulai memaju mundurkan penisku ke lubang vaginanya, desah nafasnya kian keras kudengar. Tubuhnya terus menggelinjang dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya.

Akibatnya baru beberapa menit permainan berlangsung aku sudah tak tahan. Betapa tidak, penisku yang berada di liang vaginanya terasa dijepit oleh dinding-dinding kemaluannya. Bahkan terasa seperti disedot dan diremas-remas. “Aduh,.. ah.. aku tidak tahan. Ah,..ah…ah..aaaaaahhh,” Aku terkapar di atas tubuhnya setelah menyemprotkan cukup banyak air mani di liang sanggamanya. Indah dan melayang tinggi perasaanku saat segalanya terjadi.

Dan cukup lama aku menindihnya yang memelukku erat setelah pengalaman persetubuhan pertamaku itu. “Maaf bu cepat sekali punya saya keluar. Jadinya cuma ngotorin” “Tidak apa-apa Tris. Kamu baru kali ini ya melakukannya? Nanti juga bisa tahan lebih lama” katanya setelah aku terbaring di sisinya sambil menenangkan gemuruh di dadaku yang mulai mereda. Dan dengan lembut dia membersihkan air mani yang berleleran di penisku dan vaginanya dengan daster yang tadi dikenakannya. “Sebentar aku bikin kopi dulu ya, biar kamu semangat lagi,” Dia keluar dari kamarku sambil membawa dasternya yang telah kotor.

Rupanya ia menyempatkan ke kamar mandi, karena kudengar ia menyiram dan membasuh tubuhnya. Cukup lama ia melakukan itu di kamar mandi. Baru ia kembali ke kamarku dengan membawa segelas besar kopi panas kesukaanku yang dibuatnya. Ia mengenakan kain panjang yang dililitkan sebatas dadanya. Namun satu-satunya pembungkus tubuhnya itu langsung dilepaskannya setelah menaruh gelas kopi dan mengunci kembali pintu kamarku. “Kopinya saya minum dulu ya bu,” “Oh ya, ya. Silahkan diminum nanti keburu dingin,” Menyeruput beberapa tegukan kopi panas buatannya membuatku kembali bergairah.

Aku menyempatkan diri mencuci rudalku di kamar mandi. Kendati tadi sudah dibersihkan olehnya, tetapi rasanya kurang bersih dan agak kaku. Mungkin karena sperma yang mengering. Ketika aku kembali ke kamar, Dia langsung menggenggam penisku yang masih layu. Mungkin ia sudah ingin gairahnya tertuntaskan dan bermaksud membangkitkan kejantananku dengan mengelus dan meremas-remasnya. Tetapi dengan halus kutepis tangannya.

“Aku telentang saja,..,” kataku. Dia naik atas ranjang dan aku segera menyusulnya. Ia yang telah tiduran dengan posisi mengangkang, kudekati bagian bawah tubuhnya tepat di antara kedua pahanya. Ah, liang sanggamanya sudah banyak kerutan terutama di bagian bibir kemaluannya. Warnanya coklat kehitaman. Bahkan ada bagian dagingnya yang menggelambir keluar. Ia mencoba menutupi kemaluannya dengan tangannya. Mungkin ia malu bagian paling rahasia miliknya dipelototi begitu.

Tetapi segera kusingkirkan tangannya. Dan ketika tanganku mulai melakukan sentuhan di sana, ia mandah saja. Bahkan saat telunjuk jari tanganku mulai mencoloknya, ia mendesah. Tak puas hanya memasukkan satu jari, jari tengahku menyusul masuk mencoloknya. Dan aku mulai mengkorek-koreknya dengan mengeluar-masukkan kedua jariku itu. Akibatnya ia menggelinjang dan mendesah. Kedua jariku semakin basah oleh cairan vaginanya. Baunya sangat khas, entah mirip bau apa, sulit kucarikan padanannya.

Hanya yang pasti, bau vaginanya tidak membuatku jijik. Hidungku semakin kudekatkan untuk lebih membauinya. Tetapi ketika lidahku mulai kugunakan untuk menyapu bagian luar bibir vaginanya ia memberontak. “Hiiii, jangan Tris, ah,.. ah.. jorok ah. Kamu nggak jijik? Shhh,… akhhh… shhh,….shhhh,” Ia mencoba menolakkan kepalaku menjauhkan mulutku dari lubang nikmatnya. Aku tetap nekad, mulut dan lidahku tambah liar menggeremusi dengan gemas liang sanggamanya itu.

Hingga ia kian menggelepar dan menggelinjang. Mulutnya mendesis seperti orang kepedasan. Mulut dan lidahku yang meliar ke bagian dalam vaginanya menimbulkan sensasi tersendiri. Berkali-kali ia mengangkat pantatnya dan membuat lidah dan mulutku semakin menekan dan menekan ke kedalamannya. Ludahku yang bercampur dengan cairan vaginanya menjadikan lubang nikmatnya terasa sangat basah.

Tetapi, ketika lidahku mulai melakukan sapuan ke lubang duburnya dengan cara mengangkat sedikit pantatnya, ia kembali berontak. “Apa-apaan ini, hiii,.. jangan ah kotor. Uhhh… ahhh… shhh.. shh,” Aku sering melihat film BF, saat wanita dijilati lubang anusnya, ia tambah menggelinjang dan merintih. Berarti lubang dubur sangat peka oleh sentuhan. Dan memang terbukti, Dia tambah merintih dan mengerang. Hanya baru beberapa saat sapuan kulakukan, tubuhnya telah mengejang.

Kedua pahanya menjepit kencang kepalaku disusul dengan mengejutnya dubur dan lubang vaginanya. “Ohhh, aku sudah enak Tris. Kamu sih menjilat-jilat di situ. Kamu sudah sering ya melakukan dengan wanita,” “Tidak bu,” “Kok kamu tahu yang seperti itu,” “Saya hanya ikut-ikutan adegan film BF” Ujarku. ” Bapaknya Titi (panggilan Nastiti, anaknya) sih jangankan menjilat dubur. Menjilati vagina aku saja tidak pernah,” katanya. Kubiarkan ia sesaat meredakan nafasnya yang memburu.

Lalu aku mulai menindih tubuhnya ketika ia menyatakan siap untuk melakukan permainan berikutnya. penisku mulai naik-turun keluar-masuk dari liang sanggamanya. Bunyinya sangat khas dan membuatku tambah bergairah. Sementara tanganku tak henti-hentinya meremasi susu-susunya. Pentil susunya yang besar dan mengeras kusedot-sedot dengan mulutku. Itu membuatnya keenakan dan kembali mendesah.

Ia tak mau kalah. Pinggulnya mulai digoyang. Pantat besarnya dijadikan landasan untuk menggoyang. Jadilah benda bulat panjang milikku yang berada di dalamnya mulai merasakan nikmat oleh gesekan dinding vaginanya. Goyangan pinggul dan naik-turunnya tubuhku di bagian bawah sepertinya seirama. Terasa syuur, dan ah, nikmat. Tak lupa, sesekali bibirnya kucium. Ia membalasnya lebih hangat.


Lidahku disedotnya nikmat. Jadilah kami bak sepasang kekasih yang tengah meluahkan gairah. Saling berpacu dan saling memberi kenikmatan. Aku tak peduli lagi bahwa yang tengah kusetubuhi adalah ibu kostku. Wanita yang jauh lebih tua usianya dan selama ini kuhormati karena penampilannya yang selalu nampak santun. Tak kusangka ia menyimpan bara yang siap melelehkan. Liang nikmat Dia mulai berdenyut-denyut kembali. Mungkin ia akan kembali orgasme seperti yang juga tengah kurasakan.

Goyangan pinggulnya semakin kencang tetapi tidak teratur. Maka sodokan penisku ke lubang nikmatnya semakin garang. Menghujam dan kian menghujam seolah hendak membelah bagian bawah tubuhnya. Puncaknya, ketika Dia mulai merintih dan kian mendesah, tanganku mulai menyelinap ke pinggulnya dan menyelusup ke pantatnya. Di sana aku meremas dan mencari celah agar dapat menyentuh duburnya. Dan setelah terpegang, jari telunjukku mencolek-colek lubang anusnya.

Akibatnya matanya seperti membelalak dan hanya menampakkan warna putihnya. Dirangsang di dua lubangnya sekaligus membuatnya seperti cacing kepanasan. Maka ketika tubuhnya semakin mengejang, dan tubuhku dipeluknya erat. Jari telunjukku kupaksa masuk ke lubang duburnya. Sedang penisku kubenamkan sekuatnya di vaginanya. Jadilah pertahanan wanita itu ambrol, vaginanya kian berdenyut dan menjepit sementara erangannya semakin kencang dan bahkan vaginaik.

Sedang dari rudalku, menyembur sebanyak-sebanyaknya sperma ke lubang nikmatnya. Karena banyaknya sperma yang mengguyur, kurasakan ada yang meleleh keluar dari mulut kemaluannya yang masih terterobos oleh penisku. “Ah, aku puas sekali Tris. Baru kali ini aku merasakan yang seperti ini,” katanya. Kami masih terkapar di ranjang. Ada rasa ngilu dan tulang-tulangku seperti dilolosi.

Tetapi sangat nikmat. Ada tiga ronde permainan yang kulakukan malam itu. Dia mengaku sangat kecapaian ketika aku memintanya kembali. Menjelang subuh, ia pamit untuk kembali ke kamarnya. “Kalau kamu suka, aku siap melakukannya setiap waktu. Tetapi tolong jaga erat-erat rahasia kita ini,” ujarnya berpesan. Aku mengangguk setuju. Bahkan sebelum keluar dari kamarku ia kuhadiahi ciuman panjang. Pantat besarnya kuremas-remas gemas dan nyaris punyaku bangkit kembali. “Sudah ah, besok malam bisa kita sambung lagi.

Kamu Tris, besok harus kuliah kan,” katanya. Bergegas ia menyelinap keluar dari kamarku. Takut dengan gairahnya yang kembali terpancing. Perselingkuhanku dengannya terus berlangsung. Di setiap kesempatan, kalau tidak aku yang mengajaknya, ia yang mengambil insiatif. Bahkan di siang hari, kalau aku lagi ngebet, sengaja bolos dari kampus. Mampir ke warungnya dan memberi kode, lalu ia akan pulang menyempatkan melayaniku di kamarku atau di kamarnya. Ia memang tergolong wanita panas yang terpicu hasrat seksualnya.

Seperti siang itu, karena hanya ada satu mata kuliah, aku pulang agak siang dari kampus. Aku langsung ke warung untuk makan siang dan bermaksud memberi kode pada ibu kostku. Tetapi ia tidak di sana. ” Ibu baru saja pulang, mungkin untuk istirahat,” kata Yu Narsih, pembantunya yang ada menunggu warung melayani pembeli. Jarak antara warung dengan rumah memang dekat tak lebih dari 50 meter. Maka setelah menyantap makan siangku, aku langsung ngabur ke rumah.

Dia tidak sedang tidur seperti yang kusangka. Ia sedang melipati pakaian yang telah diambilnya dari jemuran duduk di ruang tengah. Maka dasar sudah horny, kudekati ia dan kupeluk dari belakang. “Kuliahnya bebas Tris,” katanya. “Cuma satu mata kuliah kok,” jawabku. Ia berkeringat, mungkin karena kesibukannya melayani pembeli sejak pagi. Baunya khas, bau wanita dewasa. Tetapi tidak mengurangi gairahku untuk memesrainya. Ia mulai menggelinjang ketika tanganku menyelusup ke balik dasternya dan mencari gundukan buah dadanya. Kuremas-remas susunya dan kupilin putingnya.

Aku jadi gemas karena ia tak bereaksi. Tetapi melanjutkan pekerjaanya memberesi pakaian-pakaian yang telah dicucinya. Maka sambil menciumi lehernya, tanganku terus merayap dan merayap sampai kutemukan vaginanya yang masih tertutup CD. Baru ketika hendak kutarik CD nya ia berontak. “Kamu pengin Tris?,” “Iya. Habis vaginanya enak sih,” kataku. Celana dalamnya berhasil kulepaskan tanpa membuka dasternya. Sebenarnya ia mengajakku untuk main di kamarnya.

Tetapi kutolak, aku ingin ia melayaniku di sofa. Apalagi Nastiti tengah camping di sekolahnya sejak dua hari lalu. Jadi aku tidak perlu takut ketahuan anak gadisnya itu. Dan lagi aku cuma butuh pelepasan hajat secara singkat karena harus menyelesaikan makalah yang harus jadi besok pagi. Kalau main di kamar, pasti akan memakan waktu lama karena Dia pasti tak mau cuma kusetubuhi sebentar. Jadilah setelah sebentar menjilati vaginanya dan meremasi susunya, hanya dengan menyingkap dasternya aku mulai menyetubuhinya.

Dengan posisi duduk di sofa ia kangkangkan kakinya hingga memudahkanku memasukkan penis ke liang nikmatnya. Kugenjot pelan lalu mulai cepat, karena nafsuku memang sudah naik ke ubun-ubun. Namun pada saat aku memuncratkan sperma ke lubang vaginanya, samar-samar kulihat seseorang melihati perbuatan kami. Ia adalah Yu Narsih, pembantu aku. Kulihat ia mengintip dari balik gorden di pintu dekat kamar mandi. Rupanya ia masuk dari pintu belakang rumah yang memang tidak terkunci. Aku langsung berdiri dan melangkah ke arah dapur. “Dasar anak muda, kalau lagi ada mau nggak sabaran,” katanya tersenyum melihat tingkahku.

Dibersihkannya sperma yang berleleran di sekitar kemaluannya dengan daster yang dikenakannya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya aku tengah mencoba mengejar Yu Narsih yang langsung menyelinap keluar setelah perbuatanku dengan ibu kostku. Aku jadi panik, takut Yu Narsih akan menceritakan peristiwa yang dilihatnya kepada para tetangga. Kuputuskan untuk tidak menceritakan padanya ihwal Yu Narsih. Biarlah akan kucoba meredamnya, pikirku. Selepas sore kutemui Yu Narsih di rumahnya.

Jarak rumah Yu Narsih hanya sekitar 500 meter. Terpencil di tepi sawah. Aku memang sering main ke rumahnya dan kenal baik dengan suaminya, Kang Sarjo yang berprofesi sebagai tukang becak. Wanita berusia sekitar 35 tahun dan berkulit agak gelap itu, cukup kaget ketika aku datang. “Kang Sarjo mana Yu?” “Oh, baru saja berangkat narik. Ada perlu dengan dia?” Plong, lega rasa hatiku. Aku memang ragu, takut permasalahan yang ingin kusampaikan ke Yu Narsih di dengar suaminya.

Aku dipersilahkannya duduk di balai, satu-satunya perabotan yang ada di ruang tamu rumah berdinding pagar itu. Yu Narsih pun duduk menyebelahiku. “Tidak. Aku malah perlu sama Yu Narsih kok,” kataku. Dengan pelan kusampaikan maksud kedatanganku. Aku meminta Yu Narsih tidak menceritakan apa yang dilihatnya siang tadi kepada orang-orang. Kasihan ibu kostku akan jadi bahan gunjingan orang. Dan sejauh ini Dia tidak tahu kalau Yu Narsih sebenarnya telah memergoki perbuatan itu hingga aku memintanya pula untuk tidak menegur ibu kostku.

Ia cuma terdiam membisu sampai aku menyelesaikan semua yang ingin kusampaikan. “Ah, saya ndak apa-apa kok Mas Tris. Saya malah yang minta maaf, tadi nyelonong masuk,” ujarnya. “Tetapi saya tidak enak sama Yu Narsih. Yu Narsih jangan cerita sama siapa-siapa ya,” kataku lebih menegaskan. Seperti menghiba saat aku menyampaikan itu. “Iya mas. Masak saya menjelek-jelekkan Mas Tris dan ibu sih,” Mendengar kesungguhan dan ketulusannya itu aku merasakan beban berat yang tadi menindihku berkurang.

Akupun langsung pamit pulang. Sejak itu aku dengan tenang dapat memuasi ibu kostku. Aku tinggal di rumah ibu kostku sampai lulus kuliah dan telah memperoleh pekerjaan. Bahkan, saat ini saya tengah dalam persiapan perkawinan dengan Nastiti, putri tunggal ibu kostku, entah apa jadinya nanti,…. Apakah Dia akan tetap meminta layananku bila aku telah menjadi menantunya ?